
Unesa.ac.id. SURABAYA—Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan inklusif di tingkat internasional. Kali ini, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) hadir di Sekolah Indonesia Davao (SID), Filipina, untuk mendampingi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran akomodatif bagi peserta didik, termasuk mereka yang lambat belajar.
Program ini dilaksanakan oleh tim dosen FIP yang terdiri dari Muhammad Nurul Ashar, Budi Purwoko, Ni Made Marlin Minarsih, dan Roid Al-Mahdi. Selama delapan minggu, tim fokus pendampingan melalui tiga tahap utama, yakni persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pada tahap persiapan, dilakukan koordinasi intensif dengan pihak sekolah untuk menganalisis kebutuhan dan menyusun bahan ajar. Tahap pelaksanaan mencakup asesmen awal, pendampingan praktik, hingga penerapan strategi pembelajaran akomodatif. Sementara tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas program sekaligus merumuskan tindak lanjut.
“Berbagai pendekatan diterapkan dalam proses pembelajaran, mulai dari diferensiasi materi, penggunaan media visual, modifikasi tugas, hingga penguatan aspek sosial-emosional,” ucapnya pada Senin, 15 September 2025.
Upaya tersebut berhasil meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca, menulis, dan berhitung dasar, sekaligus membuat mereka lebih aktif dalam proses belajar. Guru-guru SID pun memperoleh pengalaman baru dalam mengembangkan strategi pengajaran yang inklusif dan adaptif.
Budi Purwoko, guru besar FIP menambahkan bahwa kolaborasi ini mencerminkan kontribusi nyata FIP Unesa dalam mendukung misi pendidikan inklusif yang berkeadilan di kancah internasional.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak, dengan kondisi apapun, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Pendampingan ini bukan hanya soal teknik pembelajaran, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa pendidikan harus bisa merangkul semua,” tegasnya.
Ia melanjutkan, Unesa berharap program ini dapat berlanjut secara berkesinambungan, tidak hanya di SID, tetapi juga di sekolah-sekolah Indonesia lainnya di luar negeri. Dengan demikian, praktik pendidikan inklusif yang sudah terbangun dapat semakin kuat dan memberi dampak luas bagi generasi muda. []
Share It On: