
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA— Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar workshop bertema “Nikmati Kebaikan Jamu dengan Sentuhan Modern dan Mewah” pada Senin (24/11/2025) di Lantai 6 Gedung Rektorat, Kampus II Unesa, Lidah Wetan.
Kegiatan ini menghadirkan cara pandang baru bahwa jamu bukan sekadar minuman herbal tradisional, tetapi bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern yang elegan, praktis, dan tetap menyehatkan.
Workshop ini menekankan bahwa inovasi teknologi memungkinkan bahan baku jamu dipilih lebih berkualitas dan dikemas secara praktis tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi. Peserta diajak memahami jamu sebagai pengalaman wellness yang utuh, bukan hanya sebagai ramuan turun-temurun.
Ida Ayu Siti Hamidah Sulaksono menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan tubuh dan bagaimana jamu dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jamu itu ada bermacam-macam, ada yang untuk pengobatan sakit seperti batuk dan lainnya. Kita pilih jamu yang baik dan sesuai untuk tubuh kita. Jadi, jamu itu memang sangat penting. Maka dari itu kita mengambil tema ini,” ujarnya.
Sementara itu, Titik Martadi menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan berbagi ide serta pengalaman seputar jamu.
“Saya sangat berterima kasih atas berbagi pengalamannya kepada kita semua untuk sehat dan cantik. Ibu-ibu cantik semua di kesempatan ini akan diajak berhubungan langsung dengan jamu. Ini merupakan kesempatan dan pengalaman yang sangat baik,” tuturnya.
Materi inti disampaikan oleh Arie Dwi Puspitawati, Apoteker Penanggung Jawab di Industri Jamu UKOT UD Herbalindo, yang menekankan pentingnya dosis dan takaran dalam pembuatan jamu.
"Kalau kita sadar, jamu itu bisa untuk pencegahan, penyembuhan, dan pemeliharaan kesehatan. Jadi kalau kita memperhatikan dosisnya, kapan kita harus minumnya secara ringan. Kalau dosisnya kecil, setiap hari jamu bisa diminum. Tetapi kalau kita sudah posisi sakit, ya minumnya bukan jamu lagi, sudah menjadi obat bahan alam," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa konsumsi jamu tetap harus dibarengi pola hidup seimbang—mulai dari menjaga jadwal makan, olahraga, hingga konsumsi buah, agar manfaatnya optimal. Meski jamu kaya filosofi dan memiliki pendekatan holistik, inovasi tetap diperlukan agar generasi muda tertarik mengonsumsinya.
“Jadi agar anak-anak bangsa minum jamu, saya coba modifikasi dengan campuran susu. Tetap aman dan khasiatnya masih ada. Lalu saya coba membuat jamu yang tanpa direbus, bisa langsung diracik diseduh dan langsung dinikmati supaya lebih praktis,” tandasnya. ][
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: