Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Unesa Gandeng Pakar Monash University, Perkuat Mutu Riset Berdampak Bereputasi Internasional

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Menembus pendanaan riset internasional (international research grant) tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan ide yang bagus. Lebih dari itu, proposal yang kompetitif menuntut strategi taktis, keberagaman tim, tata kelola profesional, serta kejelasan dampak nyata bagi masyarakat.

Guna memperkuat kapasitas para peneliti di panggung global, Unesa Science Center menggelar seminar penguatan proposal riset tingkat internasional di Home Theatre, Gedung Rektorat Unesa, Kampus 2 Lidah Wetan, pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Direktur Unesa Science Center, Mochamad Purnomo, menjelaskan bahwa persaingan meraih pendanaan global sangat ketat. Oleh karena itu, para peneliti di lingkungan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Unesa perlu dibekali pemahaman taktis dalam memetakan ide agar selaras dengan fokus penyandang dana internasional.

“Kalau sekadar teori mungkin mudah, tetapi kami perlu mengetahui jalur-jalur taktisnya untuk memperkuat kualitas dan mutu agar proposal riset dari Unesa berhasil lolos pendanaan global,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan guru besar Monash University, Taufik Asyari, yang mengungkapkan bahwa kekeliruan utama peneliti saat mengajukan hibah internasional adalah terlalu fokus pada ide riset, namun mengabaikan penyusunan proposal secara menyeluruh.

Menurut Taufik, lembaga penyandang dana dunia mencari proposal yang menyeimbangkan antara kebaruan ide, rekam jejak peneliti, keberagaman anggota tim, hingga aspek inklusivitas.

Ia menegaskan bahwa riset bereputasi internasional kini tidak lagi sekadar mengejar luaran publikasi di jurnal, melainkan harus memiliki jangkauan dan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, Unesa memiliki modal kuat melalui kepakaran khas seperti sport science, keandalan studi disabilitas, seni budaya, hingga pendidikan STEM dan AI yang dapat dioptimalkan menjadi nilai tawar unik dalam konsorsium global.

“Peneliti harus mampu menonjolkan keahlian lokal yang relevan secara global agar penyandang dana yakin bahwa institusi kita adalah mitra yang tepat untuk menjalankan proyek tersebut,” kata Taufik.

Selain substansi keilmuan, Taufik menyoroti pentingnya tata kelola riset yang profesional melalui keberadaan dedicated project manager. Pengelola proyek khusus ini bertugas mengawal administrasi, komunikasi mitra internasional, hingga akuntabilitas anggaran, sehingga dosen dan peneliti dapat fokus menjaga kualitas riset. ][

***

Reporter: Azam Mudzaky (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa