Sekali lagi Unesa membuktikan prestasinya di Tingkat Nasional. Tim roket Unesa berhasil meraih juara favorit di Kontes Muatan Roket Indonesia (Komurindo) 2011 yang digelar di Bantul, (25-27/6). Tim Mata Dewa beranggotakan tiga mahasiswa yakni Terdy Cristopher dari Jurusan Teknik Elektro, Raden Kharis W, dan Munif Efendi dari Jurusan Pendidikan Teknik Mesin dengan dosen pembimbing Joko Catur C.C, S.Si, M.T. Dibalik kesuksesan, ada pengorbanan serta hambatan yang dialami tim Mata Dewa. Mulai dari laptop yang tiba-tiba hang hingga perubahan peraturan mendadak dari panitia. Namun semua hal itu terbayar dengan gelar juara favorit yang mereka raih, "Pada uji terbang, Mata Dewa berhasil mengalahkan pesaing lainnya dari Jatim dengan lolos uji hanya sekali terbang. Sedangkan ITS, Brawijaya dan PENS butuh dua kali uji tes terbang, dan UGM gagal lolos uji terbang," ujar Apriliyano Suseno selaku ketua tim robotika Unesa.
"Pada Kontes Muatan Roket Indonesia 2011 kemarin, banyak pelajaran yang kami dapatkan. Mulai dari angin yang tidak bisa diduga yakni tiap sepuluh meter selalu berubah-ubah kecepatannya, kesiapan dari tim roket Unesa sendiri dan rasa tanggung jawab serta komitmen tim. Semua pengalaman ini menjadikan tim roket Unesa kedepannya bisa lebih baik lagi, " kata Yanu, panggilan akrab Apriliyano Suseno . Tak hanya itu, selain tim roket Unesa yang berbahagia atas kemenangan yang telah diraihnya. Kemenangan Mata Dewa Unesa ini juga, dipersembahkan sebagai kado satu tahun L 15 di bawah kendali Prof. Muchlas Samani.
Komurindo 2011 sudah empat kali digelar di Bantul. Kompetisi ini bertujuan untuk menyiapkan bibit unggul yang berminat untuk menggeluti teknologi kedirgantaraan, khususnya peroketan. Melalui sarana space education dan meningkatkan rasa cinta dirgantara kepada masyarakat luas menuju kemandirian Indonesia di bidang teknologi peroketan. Acara ini diselenggarakan oleh DP2M Ditjen Dikti dan merupakan hasil kerja sama UGM, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Pemkab Bantul, dan AAU.
Dalam sambutannya, Suryo Hapsoro berharap melalui Komurindo 2011 mahasiswa dapat belajar untuk merumuskan dan mencari solusi permasalahan yang dijumpai pada waktu kompetisi ketika mereka terjun di masyarakat maupun dunia kerja. "Ya, seperti inilah hidup yang sebenarnya. Ada persoalan yang harus dicarikan solusi secara bersama-sama dan gotong-royong," kata Suryo. Ia mengingatkan kepada mahasiswa tentang tiga pilar untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi termasuk pada sebuah kompetisi, yakni resource sharing, integrasi proses, dan pemanfaatan teknologi informasi. Sinergi antara ketiga pilar itu, nantinya akan dihasilkan sebuah karya anak bangsa yang bermanfaat bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. "Diharapkan hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi kemajuan Indonesia yang lebih berkarakter," pesannya. [Novi Indah & Sulaiman_Humas]
"Pada Kontes Muatan Roket Indonesia 2011 kemarin, banyak pelajaran yang kami dapatkan. Mulai dari angin yang tidak bisa diduga yakni tiap sepuluh meter selalu berubah-ubah kecepatannya, kesiapan dari tim roket Unesa sendiri dan rasa tanggung jawab serta komitmen tim. Semua pengalaman ini menjadikan tim roket Unesa kedepannya bisa lebih baik lagi, " kata Yanu, panggilan akrab Apriliyano Suseno . Tak hanya itu, selain tim roket Unesa yang berbahagia atas kemenangan yang telah diraihnya. Kemenangan Mata Dewa Unesa ini juga, dipersembahkan sebagai kado satu tahun L 15 di bawah kendali Prof. Muchlas Samani.
Komurindo 2011 sudah empat kali digelar di Bantul. Kompetisi ini bertujuan untuk menyiapkan bibit unggul yang berminat untuk menggeluti teknologi kedirgantaraan, khususnya peroketan. Melalui sarana space education dan meningkatkan rasa cinta dirgantara kepada masyarakat luas menuju kemandirian Indonesia di bidang teknologi peroketan. Acara ini diselenggarakan oleh DP2M Ditjen Dikti dan merupakan hasil kerja sama UGM, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Pemkab Bantul, dan AAU.
Dalam sambutannya, Suryo Hapsoro berharap melalui Komurindo 2011 mahasiswa dapat belajar untuk merumuskan dan mencari solusi permasalahan yang dijumpai pada waktu kompetisi ketika mereka terjun di masyarakat maupun dunia kerja. "Ya, seperti inilah hidup yang sebenarnya. Ada persoalan yang harus dicarikan solusi secara bersama-sama dan gotong-royong," kata Suryo. Ia mengingatkan kepada mahasiswa tentang tiga pilar untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi termasuk pada sebuah kompetisi, yakni resource sharing, integrasi proses, dan pemanfaatan teknologi informasi. Sinergi antara ketiga pilar itu, nantinya akan dihasilkan sebuah karya anak bangsa yang bermanfaat bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. "Diharapkan hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi kemajuan Indonesia yang lebih berkarakter," pesannya. [Novi Indah & Sulaiman_Humas]
Share It On: