
Rektor Unesa, Nurhasan atau Cak Hasan bersama seluruh jajarannya selalu terlibat dan membersamai pembagian takjil dan buka puasa bersama yang dihadiri ribuan mahasiswa, pengguna jalan, dan masyarakat sekitar. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa BIPA menjadi harmoni budaya di tenda bukber Unesa.
Unesa.ac.id., SURABAYA—Suasana di gerbang utama Kampus II Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tampak berbeda pada Sabtu, 28 Februari 2026. Di antara keriuhan warga yang menanti waktu berbuka, terlihat enam mahasiswa asing yang tergabung dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Unesa tampak sibuk menjadi relawan pembagian takjil gratis.
Mahasiswa asal Tiongkok, Korea Selatan, dan Tanzania tersebut tampak cekatan menata hidangan di atas meja hingga menyodorkannya langsung kepada para pengendara dan pejalan kaki yang melintas. Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dalam kegiatan rutin Unesa Berbagi, sekaligus menjadi simbol nyata dari indahnya keberagaman dan toleransi di lingkungan kampus.
Ketua Program BIPA Unesa, Octo Dendy Andriyanto menyampaikan bahwa pelibatan mahasiswa asing sebagai relawan ini bertujuan untuk mengenalkan budaya filantropi khas Indonesia. Selain itu, momen ini menjadi laboratorium bahasa yang efektif bagi mereka.
“Kami mendorong mahasiswa BIPA untuk terjun langsung ke masyarakat agar mereka merasakan sendiri indahnya budaya berbagi di Indonesia. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia secara langsung dalam konteks sosial yang nyata,” ujarnya.

www.unesa.ac.id
Bagi para relawan internasional ini, pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam yang sulit ditemukan di negara asal mereka. Hyun Subin, mahasiswa asal Korea Selatan yang akrab disapa Sekar, mengaku terpukau dengan ragam jajanan tradisional dan kebersamaan masyarakat saat menanti beduk magrib.
“Ini pengalaman pertama bagi saya. Di Korea, jumlah umat muslim relatif sedikit, sehingga tradisi seperti ini jarang ditemui. Saya sangat senang bisa merasakan hal baru yang penuh kehangatan ini,” ungkap Sekar dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.
Senada, Rajab Hamis Yusuph, mahasiswa asal Tanzania, menilai kegiatan ini sebagai sarana mempererat persatuan. Ia mencatat bahwa tradisi berbuka puasa bersama dalam skala besar seperti di Unesa merupakan pemandangan unik yang tidak lazim ditemukan di negaranya.
“Di Tanzania, tradisi berbuka bersama secara kolektif di ruang publik tidak sedinamis di sini. Pengalaman ini sangat menarik bagi saya, karena kegiatan semacam ini sangat baik untuk membangun rasa persaudaraan,” tuturnya.
Kekaguman serupa datang dari Liu Meixi, mahasiswa asal Tiongkok. Baginya, menghabiskan petang sebagai relawan pembagi takjil bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan jendela untuk mengenal tradisi baru. Ia mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat yang berkumpul dalam suasana damai. ][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT) & Ajwa Elizia Alwi (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: