Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Pakar Unesa Soroti Kosakata Bahasa Indonesia yang ‘Terasing’ di Negerinya Sendiri

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Kata takarir (caption), salindia (power point), dan selampai (tisu) mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat di tanah air. Padahal, ketiganya merupakan kosakata resmi bahasa Indonesia. Sayangnya, istilah asing justru lebih akrab di telinga ketimbang padanan lokal yang sudah tersedia.

Fenomena ini menarik perhatian Anas Ahmadi, pakar bahasa dan sastra dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ia menilai maraknya penggunaan kosakata asing tidak sekadar masalah pilihan kata, melainkan sinyal makin menurunnya penggunaan kosakata bahasa Indonesia oleh penuturnya sendiri.

Menurut Anas, perkembangan bahasa memang tidak lepas dari masuknya istilah asing. Bahasa Indonesia sangat terbuka untuk menyerap kosakata baru, tetapi proses ini harus diimbangi dengan pengembangan dan penggunaan padanannya secara aktif.

Bukan Menolak Bahasa Asing

Anas menegaskan bahwa menjaga keberadaan bahasa Indonesia bukan berarti menolak bahasa asing. Masyarakat tetap perlu mempelajari bahasa lain untuk kebutuhan pendidikan, karier, maupun komunikasi global.

Persoalannya muncul ketika dominasi bahasa asing membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk mengenali bahasa sendiri, terutama ketika padanannya sudah ada, tetapi jarang digunakan atau bahkan tidak diketahui keberadaannya.

Kosakata yang terlalu lama dibiarkan mengendap lama-lama akan terasa asing, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Oleh karena itu, membiasakan padanan bahasa Indonesia menjadi langkah krusial untuk merawat eksistensi kosakata tersebut.

Siapa Lagi yang Merawatnya kalau Bukan Kita?

Langkah nyata dapat dimulai dari hal sederhana: memperhatikan pilihan kata saat berbicara, menulis pesan, membuat konten, hingga menyampaikan informasi publik. Kosakata yang terancam terlupakan dapat diperkenalkan kembali secara bertahap.

“Mulai dari cara kita berbicara dan berdiskusi, tunjukkan bahwa kita adalah pencinta bahasa Indonesia. Siapa lagi yang akan merawat bahasa Indonesia kalau bukan kita sendiri?” ujar Anas.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar upaya ini dilakukan tanpa pemaksaan. Setiap orang memiliki tingkat Kepedulian yang berbeda terhadap bahasa. Dengan pendekatan yang persuasif, penggunaan padanan bahasa Indonesia diharapkan tidak lagi terasa sebagai beban kewajiban, melainkan pilihan alami dalam berkomunikasi.

Pada akhirnya, bahasa Indonesia tidak hanya hidup karena statusnya sebagai bahasa nasional, tetapi benar-benar bernapas dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. ][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):