Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Lulusan Terbaik FH Kaji Implikasi Putusan MK terhadap Masa Jabatan DPRD

bnr-arrow-1-1.png

Ingat kembali alasan pertamamu melangkah ke kampus ini. Ada harapan besar yang sedang kamu perjuangkan dan senyum orang tua yang menunggu dibayar tuntas. Jangan biarkan rasa malas menunda masa depanmu. Bangkit, ciptakan karya, dan luluslah dengan bangga!

Unesa.ac.id. SURABAYA—Menjadi wisudawan terbaik tidak hanya ditandai oleh capaian akademik, tetapi juga kemampuan mengembangkan pengetahuan untuk membaca persoalan hukum yang berkembang di masyarakat. Hal itu ditunjukkan Wahyu Ersa Siregar, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang meraih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Hukum dengan IPK 3,76 pada wisuda ke-121 Unesa pada 12 Agustus 2026 lalu.

Wahyu mengangkat persoalan konstitusional dalam tugas akhirnya melalui penelitian berjudul ‘Implikasi Konstitusional Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 terhadap Perpanjangan Masa Jabatan Anggota DPRD.’ Kajian tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap putusan Mahkamah Konstitusi yang saat itu menjadi pembahasan di kalangan akademisi dan praktisi hukum.

Melalui penelitian hukum normatif, Wahyu menganalisis peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta berbagai literatur hukum untuk melihat implikasi putusan tersebut terhadap sistem ketatanegaraan, khususnya berkaitan dengan masa jabatan anggota DPRD.

“Saya menggunakan metode penelitian hukum normatif untuk menganalisis peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta berbagai literatur hukum,” ujarnya.

Tidak berhenti sebagai tugas akhir, hasil penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi artikel ilmiah dan berhasil dipublikasikan dalam ‘Indonesian Journal of Contemporary Law.’ Publikasi tersebut menjadi salah satu capaian akademik yang melengkapi perjalanannya selama menempuh pendidikan di FH Unesa.

Pengalaman akademiknya juga diperkuat melalui berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Wahyu mengikuti program magang riset, magang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya, serta praktik peradilan semu (moot court) untuk tiga jenis peradilan, yakni pidana, perdata, dan tata usaha negara.

“Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan karena memberikan gambaran nyata mengenai proses persidangan,” tegasnya.

Pengalaman tersebut membuat Wahyu tidak hanya mempelajari hukum dari perspektif akademik, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai penerapannya dalam praktik. Ketertarikannya terhadap isu hukum sendiri tumbuh sejak sebelum kuliah, ketika ia kerap mengikuti pemberitaan mengenai berbagai persoalan hukum yang berkembang di masyarakat.

Di luar kegiatan akademik, Wahyu juga tetap menjalani aktivitas lain untuk menjaga keseimbangan. Ia aktif berolahraga dan memiliki hobi mendaki gunung. Dalam satu tahun, ia dapat melakukan pendakian hingga lima kali.

Menurut Wahyu, mendaki mengajarkannya tentang proses dan konsistensi. Nilai tersebut pula yang ia terapkan selama menjalani perkuliahan. Ia berusaha mengikuti proses pembelajaran secara konsisten, memahami materi secara bertahap, serta menyelesaikan tugas tanpa menunda pekerjaan.

“Di gunung kita bukan sedang menaklukkan alam, tetapi belajar menaklukkan diri sendiri. Dalam dunia hukum pun begitu, ilmu yang dimiliki harus digunakan untuk membantu sesama,” ujarnya.

Di tengah perjalanan akademiknya, Wahyu juga tetap membantu usaha keluarga menjual tahu campur. Baginya, aktivitas tersebut menjadi bagian dari keseharian sekaligus bentuk dukungan kepada orang tua, Heru Imron dan Fatmawati, yang selama ini terus mendorong pendidikannya.

Meski sempat tidak memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan tinggi, dorongan orang tua dan ketertarikannya terhadap persoalan hukum akhirnya membawa Wahyu memilih FH Unesa. Perjalanan tersebut kini mengantarkannya menyelesaikan pendidikan sekaligus meninggalkan karya akademik yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Baginya, capaian sebagai wisudawan terbaik tidak lahir dari strategi instan. Konsistensi dalam menjalani proses perkuliahan menjadi cara yang ia pegang hingga menyelesaikan studinya. ][

***

Reporter: Saputra

Editor: @zam*

Dok: Wahyu Ersa Siregar