
Minat baca atau kecintaan pada dunia literasi perlu ditumbuhkan sejak dini melalui peran orang tua dan pihak sekolah. (ilustrasi; Freepik.com)
Unesa.ac.id., SURABAYA–Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap 8 September menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perkembangan dan kondisi literasi di Indonesia. Kisyani Laksono, pakar linguistik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menyoroti bahwa di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, tantangan literasi kini bergeser.
Menurutnya tantangan bukan lagi soal akses, melainkan bagaimana masyarakat bisa bijak menyikapi disrupsi digital, terutama di era maraknya kecerdasan buatan atau AI yang penggunaannya sering kali tak terkontrol.
Bagi guru besa Unesa kelahiran Solo itu, literasi sangat krusial, karena membantu seseorang dalam menghadapi berbagai masalah dengan lebih baik. Namun, minat baca di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa, justru semakin menurun. Kisyani menyebutkan dua faktor utamanya karena faktor internal dan eksternal.
Faktor internal terkait niat, kebiasaan, suasana hati, hingga kesehatan seseorang, sementara faktor eksternal disebabkan oleh kemajuan zaman yang membuat segalanya serba instan. Penggunaan gawai, media sosial, dan gim daring yang tidak bijak semakin memperparah kondisi ini, mengikis minat untuk membaca.
Ia menyoroti bahwa perkembangan teknologi digital, seperti e-book, aplikasi perpustakaan digital, dan media sosial, seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan minat baca. Sayangnya, tren ini tampak menurun, meskipun buku-buku digital sempat laris di pasaran. Hal ini menjadi paradoks di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi.
Untuk mengatasi tantangan ini, Kisyani menawarkan sejumlah strategi praktis agar membaca kembali membumi dan menjadi kebiasaan yang disukai. Pertama, memahami manfaat membaca.
“Membaca melatih otak kita untuk berpikir kritis dan kreatif. Akan ada loncatan pikiran dan pengetahuan baru yang terbentuk,” ungkap dosen Prodi S-1 Sastra Indonesia tersebut.
Strategi kedua adalah mencari buku dengan topik atau genre yang disukai. Kisyani menekankan pentingnya niat tulus dan tanpa paksaan. Baik itu buku cetak maupun digital, yang terpenting adalah membaca apa yang disukai, karena hal itu akan sangat membantu pada tahap awal.
Ketiga, bagi para pemula, jadwalkan waktu membaca setiap hari, baik di pagi hari maupun sebelum tidur. Konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun fondasi kebiasaan membaca.
Selanjutnya, Kisyani menyarankan agar masyarakat bergabung dengan komunitas buku. Diskusi yang terjadwal di dalam kelompok akan mendorong seseorang untuk membaca lebih banyak.
Jika sulit menemukan komunitas luring, komunitas daring atau bahkan membentuk kelompok baca kecil bersama keluarga dan teman juga bisa menjadi alternatif. Terakhir, setelah membaca, lakukan evaluasi dan refleksi. Momen ini, menurut Kisyani, dapat meningkatkan pemahaman dan kemahiran membaca.
Literasi digital di era AI, menurut Kisyani, menuntut kita untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga pembaca yang cerdas dan kritis. Kemampuan untuk mengolah informasi, membedakan fakta dan hoaks, serta memanfaatkan AI secara produktif.
“Membiasakan membaca adalah langkah pertama untuk membangun ketahanan literasi di tengah pusaran distraksi digital, sekaligus mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang semakin kompleks,” tukasnya.][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Ilustrasi: Freepik
Share It On: