
Unesa.ac.id. SURABAYA—Di balik senyum ramahnya, Zidny Hudan Feriansyah, lulusan terbaik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) pada Wisuda ke-115 Unesa akhir Agustus 2025 lalu itu menyimpan kisah perjuangan yang tak biasa. Mahasiswa asal Gresik yang berhasil meraih IPK 3,97 itu layak dijadikan inspirasi.
Wisudawan kelahiran Gresik, 30 Juni 2003 yang akrab disapa Zidan itu sehari-hari tinggal di kos kawasan Lidah Wetan, Surabaya, sembari bekerja sebagai tutor di sebuah lembaga pendidikan bahasa Jerman.
“Ini salah satu pekerjaan impian saya. Tetapi ke depan saya ingin terus belajar sampai bisa menjadi dosen, sesuai cita-cita saya dan orang tua,” ungkapnya.
Zidan lahir dari keluarga sederhana dari pasangan Akhmad Mufid dan Lailatuh Udchijah. Ayahnya bekerja sebagai karyawan swasta di bagian keamanan (satpam) di salah satu pabrik di Gresik, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga menekuni usaha kuliner.
“Peran mereka sangat penting. Saya bangga sekali punya orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah,” ujarnya.
Dalam tugas akhirnya (skripsi), Zidan mengangkat tema yang cukup unik berjudul “Pengembangan Latihan Soal Membaca Pemahaman Bahasa Jerman melalui Media Zep Quiz.” skripsi itu terinspirasi saat menjalani praktik mengajar di sekolah.
“Saya melihat siswa kerap bosan saat mengerjakan soal membaca pemahaman. Dari situ, saya berinovasi mengubah soal latihan menjadi kuis berbasis metaverse yang interaktif. Hasilnya luar biasa. Respon siswa sangat positif. Mereka jadi lebih semangat belajar,” kata Zidan.
Di awal kuliah, pria yang menyampaikan pidato perwakilan wisuda itu justru berniat jadi mahasiswa “kupu-kupu” alias kuliah pulang-kuliah pulang. Namun, kenyataan berkata lain.

www.unesa.ac.id
Dalam setahun, tanpa sadar ia sudah ikut lebih dari 25 kepanitiaan. Bahkan, ia pernah tampil membawakan tari tradisional Jerman di sebuah restoran mewah di Surabaya. Padahal, ia sama sekali tidak punya basic menari.
Zidan membenarkan dirinya bukan tipe mahasiswa pemburu lomba. Namun, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan non-akademik seperti kepanitiaan, penelitian dosen, hingga kegiatan sosial.
Di bidang akademik, ia sukses meraih sertifikasi internasional Goethe-Zertifikat B1 Bahasa Jerman. Sertifikat itu menjadi modal penting bagi kariernya di dunia pendidikan.
Di balik kesibukannya, Zidan ternyata punya sisi lain yang jarang diketahui. Ia mengaku sering “gabut”. Namun, kegabutan itu justru ia isi dengan aktivitas unik. “Terkadang, tiba-tiba saya belajar merajut, bereksperimen bikin makanan, atau belajar bahasa baru,” ceritanya.
Pencapaian Zidan tentu bukan hal yang mudah. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan kuliah meski aktif di berbagai kegiatan luar perkuliahan. Setiap tugas selalu ia kerjakan dengan maksimal, sambil berusaha menikmati proses perkuliahan meski kadang terasa melelahkan.
Selain itu, ia juga percaya bahwa memiliki support system adalah kunci. “Nggak harus pacar, soalnya saya nggak punya pacar selama kuliah. Support system bisa orang tua, sahabat, atau orang terdekat,” ujarnya.
Zidan percaya, setiap langkah kecil yang konsisten akan membawa hasil besar. “Nikmati prosesnya, syukuri setiap perjalanan. Karena di balik perjuangan kita, selalu ada doa orang tua yang menyertai,” pungkasnya. ][
***
Reporter: Sindy Riska Fadillah (Fisipol)
Editor: Basyir, dan @zam*
Foto: Dok Zidny Hudan Feriansyah
Share It On: