
Yonantha Aji Dharma menunjukkan dokumen tugas akhir yang berhasil dipertahankan di depan para penguji. Tugas akhir yang menjadi bukti kemauan, ketekunan, dan perjuangan melampaui keterbatasan.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Anak petani dari Lumajang, Yonantha Aji Dharma, berhasil menjadi lulusan terbaik Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) dengan IPK 3,9 pada gelaran wisuda ke-115 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) akhir Agustus lalu.
Di balik keberhasilan itu, jalan yang ia tapaki menuju puncak penuh dengan tikungan terjal. Mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi nyaris karam. Sebab, sang ayah yang hanya seorang petani dan ibunya, seorang ibu rumah tangga, tentu tidak memiliki cukup biaya untuk menyambung pendidikan tinggi sang anak.
Karena itu, orang tua sempat kurang mendukung karena terkendala biaya. Namun, Yonantha tak patah semangat. Ia pun mendaftar melalui beasiswa KIP Kuliah. Dan, takdirpun memihak kepadanya.
Ia berhasil lolos beasiswa KIP Kuliah sehingga tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga meyakinkan kedua orang tuanya bahwa jalan menuju pendidikan tinggi terbentang lebar bagi yang mengupayakannya.
“Kegembiraan ayah dan ibu tak terlukiskan. Itu menjadi suntikan semangat terbesar bagi saya,” ujarnya bergetar.
Perjalanan Yonantha di kampus bukan hanya tentang duduk di kelas. Ia adalah seorang yang menolak zona nyaman. Di mata kuliah Permainan Kecil, ia menemukan kegembiraan kompetisi yang sehat. Lebih dari sekadar pelajaran, ia juga terjun langsung ke lapangan kehidupan.
Ia menjadi pendamping tes kebugaran jasmani bagi siswa disabilitas, sebuah pengalaman yang memberinya pelajaran paling berharga tentang empati, respect, dan kesabaran. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka terhadap sesama.
Di tengah kesibukan akademik, Yonantha mengukir prestasi di gelanggang olahraga. Ia adalah seorang pesilat berprestasi dengan gelar juara di kejuaraan pencak silat. Di luar ring, ia aktif di Himpunan Mahasiswa (Himapro) dan menjadi bagian dari program Kampus Mengajar.
Puncak pencapaian akademiknya hadir melalui skripsi. Ia melakukan penelitian perbandingan tingkat kedisiplinan antara siswa ekstrakurikuler olahraga dan non-olahraga.
Sebuah riset yang menyentil nalar, karena hasilnya menunjukkan siswa non-olahraga justru memiliki tingkat kedisiplinan 4,08% lebih tinggi. Sebuah temuan yang menantang pandangan konvensional, dan skripsinya berhasil terbit di jurnal SINTA.
Mendapat predikat wisudawan terbaik, Yonantha mengaku tak pernah menyangka. Baginya, ia hanya menjalani hari-hari kuliahnya "mengalir saja." Ia juga memiliki pandangan yang realistis tentang karier, berencana melanjutkan ke jenjang S-2 di Unesa.
Dengan segala pencapaiannya, Yonantha ingin membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukanlah akhir dari segalanya. Justru, hal itu bisa menjadi pemicu untuk melampaui batas.
Kisahnya adalah potret nyata dari ketekunan, kerendahan hati, dan keberanian untuk melangkah, membuktikan bahwa seorang anak petani pun bisa berdiri di panggung tertinggi. []
***
Reporter: Puput Saputra (FBS)
Editor: Basyir dan @zam*
Foto: Dok Yonantha
Share It On: