
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menerima kunjungan benchmarking dari Universitas Nusa Cendana (Undana), Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 26 Januari 2026. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Rektorat Kampus II Lidah Wetan ini menjadi sarana berbagi praktik baik (best practices) terkait pengelolaan program akademik unggulan, khususnya Fast Track, Double Degree, dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Direktur Pendidikan dan Transformasi Pendidikan Unesa, Rooselyna Ekawati, menyampaikan bahwa kolaborasi antar-perguruan tinggi merupakan kunci dalam memajukan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam forum ini, Unesa membagikan pengalaman mengenai tata kelola program, mulai dari kebijakan, mekanisme, hingga sistem pendukung yang terintegrasi dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
Perwakilan Undana dari Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Yetursance Y. Manafe, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mematangkan manajemen program akademik di kampusnya. Fokus utama mereka adalah mempelajari alur administrasi, persyaratan seleksi, hingga strategi penjaminan mutu yang diterapkan Unesa.
"Kami berharap dapat memperoleh gambaran utuh mengenai strategi menghadapi tantangan pengelolaan program, terutama pada aspek sistem teknologi dan pemenuhan persyaratan administrasi yang akuntabel," ujar Yetursance Y. Manafe.
Dalam sesi diskusi mengenai Program Fast Track, Rooselyna Ekawati memaparkan bahwa Unesa menerapkan integrasi kurikulum lintas jenjang, mulai dari skema Sarjana-Magister hingga Magister-Doktor. Melalui skema ini, mahasiswa dapat menempuh riset jenjang lanjutan sejak tahun terakhir studi sebelumnya, sehingga masa studi menjadi lebih efisien tanpa mengurangi standar mutu.
"Program ini memiliki batasan waktu yang jelas, seperti skema lima tahun untuk S1-S2. Namun, pelaksanaannya hanya diperuntukkan bagi program studi yang telah terakreditasi Unggul atau memiliki akreditasi internasional," jelasnya.
Terkait Program Double Degree, Unesa memosisikan program ini sebagai bagian dari strategi internasionalisasi. Mekanisme ini memungkinkan mahasiswa menempuh studi di Unesa dan perguruan tinggi mitra melalui kesepakatan pengakuan kredit mata kuliah serta sinkronisasi kurikulum yang terintegrasi.
Pada sesi penutup, Kepala Pusat RPL Unesa, Awang Dharmawan, menjelaskan peran strategis jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Jalur ini hadir untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang memiliki pengalaman kerja atau pendidikan nonformal.
Melalui proses asesmen yang ketat, kompetensi yang telah dimiliki calon mahasiswa dapat direkognisi menjadi satuan kredit semester (SKS), sehingga masa studi menjadi lebih fleksibel namun tetap berkualitas.
Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Unesa dan Undana dalam meningkatkan standar pelayanan akademik serta menciptakan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan.][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Share It On: