
www.unesa.ac.id
Kemampuan berpikir juga memengaruhi keberhasilan hidup seseorang. Sebagai contoh seorang pedagang yang cerdas (berpikir kreatif), hasilnya akan berbeda dengan pedagangang yang bodoh (tidak cerdas). Meskipun kedua pedagang tersebut menjual hal yang sama, pedagang yang cerdas akan selalu berpikir bagaimana meningkatkan penjualan dengan cara memperbaharui produknya. Dia selalu mencari tahu, apa yang diinginkan oleh para pembeli. Sedangkan pedagang yang kurang cerdas hanya melakukan hal yang sama dari tahun ke tahun, Dia tidak pernah bertanya apa yang diinginkan oleh pembeli. Dalam waktu 5 tahun, pedagang yang cerdas omsetnya akan meningkat drastis, sedangkan pedagang yang kurang cerdas, omsetnya terus menurun, karena pembeli menjadi bosan dengan barang yang dijual itu-itu saja.
Contoh kasus pedagang yang disebutkan di atas, menggambarkan bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang. Orang yang berpikir cerdas memiliki peluang sukses lebih tinggi dibanding mereka yang berpikir kurang cerdas. Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sehingga orang menjadi lebih kritis, kreatif, dan rasional.
Para mahasiswa baru harus memahami bahwa salah satu yang harus dilakukan di perguruan tinggi adalah belajar berpikir keilmuan (scientific), yang diawali dengan bertanya.Kuliah di perguruan tinggi bukan hanya sekedar mencari ilmu, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana belajar mengembangkan berpikir secara keilmuan. Ilmu dan pengetahuan bisa dihasilkan atau dikonstruk melalui kegiatan berpikir (bertanya).
Sebagai contoh, seandainya Newton tidak bertanya, mengapa buah apel jatuh ke bawah (tanah), mungkin kita tidak tahu bahwa ada grafitasi. Fenomena alam tentang benda jatuh ke bawah bukan hanya di negaranya Newton, tetapi juga terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Buah kelapa di Indonesia dari dulu juga jatuh ke tanah, tetapi tidak ada yang menanyakan. Seandainya ada seorang anak kecil yang bertanya kepada neneknya, “Nek kenapa buah kelapa itu jatuh ke tanah? Jawaban sang Nenek: dari dulu yang jatuh ke bawah, bahkan pada saat neneknya nenek dulu dulu buah kepala sudah jatuh ke tanah”.
Contoh dialog antara cucu dan nenek di atas, tidak menggambarkan dialog keilmuan. Si Cucu dengan couriosity (rasa ingin tahunya) sudah mulai berpikir dengan bertanya. Tetapi si Nenek tidak menjawab dengan pemikiran, tetapi hanya menjawab dengan pengalaman. Akhirnya, pemikiran keilmuan si Cucu berhenti tidak berkembang.
Contoh kasus lain, ketika di daerah pedesaan Jawa yang pada waktu belum ada listrik, masyarakat biasanya keluar menyakksikan keindahan bulan purnama. Ketika ada fenomena alam, yaitu gerhana bulan total, Si Cucu dengan rasa ingin tahunya bertanya kepada Neneknya: “Nek bulannya kemana, kok hilang?” Sang Nenek menjawab dengan spontan, bahwa “bulannya dimakan raksasa”, dengan maksud untuk menakuti cucunya.
Namun, si Cucu tidak takut, dan mulai berpikir dan mencoba membangun suatu pengetahuan baru bahwa ada raksana yang makan bulan. Ketika bulan purnama selesai (bulan kelihatan kembali) Si cucu bertanya lagi kepada Neneknya. “Nek kata Nenek, bulannya dimakan raksasa, tetapi kok masih utuh, tidak robek-robek”? Pertanyaan si Cucu ini didasarkan kepada asumsi (pengetahuan sebelumnya) bahwa kalau kita makan dikunyah sehingga makanan terseut hancur. Sang nenek secara spontan mejawab bahwa “raksananya ompong”, (jawaban nenek juga berdasarkan pengalaman, kalau orang sudah tidak punya gigi, kalau makan langsung ditelan saja.
Si cucu bertanya lagi kepada Neneknya, “lho bulannya kok sama dengan yang tadi Nek”? Dengan asumsi bahwa ketika kita makan yang keluar tidak sama dengan yang kita makan. Si Nenek mulai berpikir untuk menanggpai pertanyaan si Cucu, dengan asumsi bahwa yang menyebabkan makanan berubah adalah perut, maka sang Nenek menjawab bahwa “Raksasanya tidak punya perut”, dengan nada agak keras sebagai tanda kejengkelannya. Tetapi Si cucu terus berpikir dengan bertanya: “sekarang Raksasanya kemana Nek”?. Neneknya menjawab dengan marah, “jangan cerewet saja”, karena neneknya sudah tidak mau berpikir lagi menanggapi pertanyaan cucunya. (bersambung)
Share It On: