
www.unesa.ac.id
Namun, saya juga ingin mengingatkan bahwa apa yang telah Anda capai saat ini bukanlah suatu fase akhir dari perjuangan untuk survive (sukses). Apa yang Anda capai saat ini baru fase awal, untuk meniti jalan menuju sukses. Tidak ada kepastian bahwa orang yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi akan sukses. Ada juga orang yang berpendidikan sarjana, hidupnya biasa-biasa saja, bahkan ada juga yang kurang berhasil secara ekonomi.
Secara teoritis, mereka yang berpendidikan tinggi, tentu memiliki peluang hidup lebih baik dan lebih sukses dibandingkan dengan mereka yang tingkat pendidikannya rendah. Mereka yang berpendidikan tinggi memiliki kompetensi yang lebih tinggi atau lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah, karena yang berpendidikan tinggi dapat melakukan pekerjaan yang lebih kompleks dan rumit. Kemampuan melakukan pekerjaan yang rumit tersebut, tentu berkorelasi dengan pendapatan. Semakin rumit dan kompleks suatu pekerjaan, akan semakin tinggi gajinya. Atas dasar asumsi tersebut banyak orang yang berusaha mengejar pendidikan setingi-tingginya. Bahkan ada pameo bahwa untuk mengubah nasib salah satu jalannya adalah melalui pendidikan.
Pendidikan, khususnya perguruan tinggi merupakan pendidikan akademik (academic education) yang lebih menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir (intelektual). Berbeda dengan pendidikan vokasi (politeknik), yang lebih menekankan pada pengembangan skiil (keterampilan). Salah satu indikator pendidikan akademik adalah penguasaan konsep dan teori, serta kemampuan menggunakan teori untuk menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena (keadaan) serta meramalkan (memprediksi) apa yang akan terjadi. Oleh karena itu, penguasaan konsep, dan teori, serta kemampuan menjelaskan fenomena yang terjadi merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi. (bersambung)
Share It On: