Sosialisasi mengenai berbagai kebijakan adalah sebagian dari tugas pokok dan fungsi Pusat Informasi Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Uniknya, sosialisasi kali ini bukan melalui teknologi canggih seperti yang sering dilakukan banyak lembaga, namun melalui pagelaran tradisional wayang kulit bersama Dalang Ki Manteb Soedharsono dengan lakon "Semar Pamong Sejati " pada Sabtu (10/12). Acara yang digelar di Lapangan Jatim Expo tersebut bertujuan untuk mengomunikasikan kebijakan pembangunan pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan pendidikan di Surabaya. Tentunya keluarga besar Unesa pun turut diundang dalam acara yang dibuka Mendikbud, Prof. Muhammad Nuh.Sekilas cerita pewayangan tersebut, ki Lurah Semar mendapat amanah menjadi sang pamong sejati dalam arti ngemong semua umat tanpa pandang bulu, rela berkorban, mampu memberikan pencerahan, bijak dalam memberikan solusi dan menjadi teladan bagi semua masyarakat. Untuk mengawali tugasnya Ki Lurah Semar harus bertapa di Gunung Tidar. Mengetahui hal tersebut Bathara Kala dan Bathara Durga tidak suka. Terjadilah kesepakatan untuk melenyapkan Ki Lurah Semar, namun Ki Lurah berhasil membuat mereka bertekuk lutut.
Pada intinya, kehadiran tokoh Semar dalam cerita ini menggambarkan sosok yang mampu memberikan pencerahan dan teladan bagi semua masyarakat. Dia menjadi pamong sejati, yang selalu melayani, mengayomi terhadap sesama dengan sepenuh hati, tanpa pamrih yang dilandasi dengan rela berkorban, tawakal, jujur, sabar, dan berbudi luhur. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa karakter bukan hanya dibutuhkan bagi peserta didik, tapi juga guru, para pemimpin serta seluruh masyarakat. (Ema Septiana_Humas Unesa)
Share It On: