Jurusan PMP-KN menggelar sarasehan kebangsaan di gedung i6Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Unesa pada Selasa (15/11/2016). Seminartersebut menghadirkan pemateri dari tiga universitas berbeda yakni Listyono Santoto,S.S, M.Hum (Unair), Johan Hasan, S.Kom.,M.Phil (Universitas Ciputra Surabaya)dan M. Helmi Umam, S.Ag, M.Hum (UINSA).
Peserta teridiri dari mahasiswa PPKn mulai angkatan 2014hingga 2016. Mereka diajak mendiskusikanisu-isu pemerintahan yang sedang marak diperbincangkan dilihat dari tiga perspektifberbeda.
Helmi Umam memaparkan bahwa setiap hal yang ada di dunia tidakdapat lepas dari kepentingan, termasuk dalam berkebangsaan. Indonesia merupkan negarayang plural sehingga memerlukan toleransi agar tidak merusak keutuhan bangsa. Toleransiberagama yang terjalin dengan baik akan meminimalisir adanya perbedaan,khususnya yang menyangkut isu-isu SARA. "Kita harus memperhatikan agama jika inginmembicarakan soal apapun di Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negara beragama,"ungkapnya.
Sementara itu, Listyono Santoto menyoroti Pancasila sebagai rumahkebangsaan. Menurutnya, rumah kebangsaan dirasa lebih penting agar Indonesiatidak berpacu pada suatu etnis atau agama yang dominan. "Ketika bangsa ini belumbisa legowo menerima perbedaanakan, menjadi resiko orang di luarJawa, orang di luar agama islam dan orang minoritas akansulit menjadi presiden," tuturnya.
Di Indonesia yang menganut demokrasi kemasyarakatan sudah seharusnyamasyarakat dapat menerima resiko kebebasan menerima keberagaman. Misalnya dalamhal Ahok yang tidak beragama Islam namun mencalonkan diri sebagai Gubernur DKIJakarta, jika mayoritas masyarakat muslim tidak menginginkan hal tersebut maka caraelegan yang dapat dilakukan adalah mencari orang yang kompeten lain untuk bersaingsecara sehat. Bukannya mempersoalkan masalah lain sebelum tiba pemilihan.
Listyono menegaskan, seharusnya Indonesia harus tetap berpedomanpada Pancasila. Dapat dikatakan bahwa Pancasila merupakan agama sipil yangharus dianut seluruh masyarakat Indonesia. Kurangnya pengetahuan akan Pancasilabisa saja menjadi pemicu pertikaian yang marak mengandung unsur SARA.
"Mari membaca Pancasila secara edukatif sebab Pancasia adalahkesepakatan bersama. Maka harus dijaga dan dirawat demi kepentingan bersama,"tandasnya.
Senada dengan Listyono Santoto yang melihat dari sisi kebhinekaandan kesetaraan Johan Hasan, jugamenyatakan bahwa Indonesia yang memiliki banyakbudaya dan keanekaragaman, Pancasila dapat ditawarkan sebagi alternative atau jalantengah untuk pemersatu bangsa. (ilmi/humas)
Peserta teridiri dari mahasiswa PPKn mulai angkatan 2014hingga 2016. Mereka diajak mendiskusikanisu-isu pemerintahan yang sedang marak diperbincangkan dilihat dari tiga perspektifberbeda.
Helmi Umam memaparkan bahwa setiap hal yang ada di dunia tidakdapat lepas dari kepentingan, termasuk dalam berkebangsaan. Indonesia merupkan negarayang plural sehingga memerlukan toleransi agar tidak merusak keutuhan bangsa. Toleransiberagama yang terjalin dengan baik akan meminimalisir adanya perbedaan,khususnya yang menyangkut isu-isu SARA. "Kita harus memperhatikan agama jika inginmembicarakan soal apapun di Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negara beragama,"ungkapnya.
Sementara itu, Listyono Santoto menyoroti Pancasila sebagai rumahkebangsaan. Menurutnya, rumah kebangsaan dirasa lebih penting agar Indonesiatidak berpacu pada suatu etnis atau agama yang dominan. "Ketika bangsa ini belumbisa legowo menerima perbedaanakan, menjadi resiko orang di luarJawa, orang di luar agama islam dan orang minoritas akansulit menjadi presiden," tuturnya.
Di Indonesia yang menganut demokrasi kemasyarakatan sudah seharusnyamasyarakat dapat menerima resiko kebebasan menerima keberagaman. Misalnya dalamhal Ahok yang tidak beragama Islam namun mencalonkan diri sebagai Gubernur DKIJakarta, jika mayoritas masyarakat muslim tidak menginginkan hal tersebut maka caraelegan yang dapat dilakukan adalah mencari orang yang kompeten lain untuk bersaingsecara sehat. Bukannya mempersoalkan masalah lain sebelum tiba pemilihan.
Listyono menegaskan, seharusnya Indonesia harus tetap berpedomanpada Pancasila. Dapat dikatakan bahwa Pancasila merupakan agama sipil yangharus dianut seluruh masyarakat Indonesia. Kurangnya pengetahuan akan Pancasilabisa saja menjadi pemicu pertikaian yang marak mengandung unsur SARA.
"Mari membaca Pancasila secara edukatif sebab Pancasia adalahkesepakatan bersama. Maka harus dijaga dan dirawat demi kepentingan bersama,"tandasnya.
Senada dengan Listyono Santoto yang melihat dari sisi kebhinekaandan kesetaraan Johan Hasan, jugamenyatakan bahwa Indonesia yang memiliki banyakbudaya dan keanekaragaman, Pancasila dapat ditawarkan sebagi alternative atau jalantengah untuk pemersatu bangsa. (ilmi/humas)
Share It On: