Diskusi sastra intersipliner merupakan forum sastra bandingan untuk menyatukan persepsi para dosen, peneliti, dan peminat sastra guna memunculkan inovasi tentang perbandingan sastra dengan disiplin ilmu yang lain. Diskusi sastra bandingan VI tahun 2013 diadakan di UGM. Dr. Suharmono, M.Pd., doktor sastra bandingan Unesa pada Sabtu (28/9) termasuk salah satu pakar sastra bandingan yang ikut serta dalam agenda tahunan ini. Ia memaparkan religiusitas novelis Asia Tenggara yang terepresentasikan dari novel Kemarau karya A.A. Navis (Indonesia), novel Al-Syiqaq I karya Shahnon bin Ahmad (Malaysia) dan Ntaidu karya Muslim Burmat (Brunei Darussalam). Diskusi sastra interdisipliner itu juga diikuti pula oleh pakar sastra bandingan dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Hasanudin (Unhas), Universitas Negeri Makasar (UNM), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Bina Nusantara (Ubinus), Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Paramadina (UP), IKIP PGRI Semarang, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.
Selain diskusi interaktif, rangkaian acara lainnya adalah workshop yang membahas jenis-jenis penelitian sastra bandingan, cara membuat proposal penelitian sastra interdisipliner, pelaksanaan riset dan penulisan laporan riset sastra bandingan. Pelatihan itu dipandu oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil., Ketua Senat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Dalam konstruksi sosial umum biasanya metode penelitian dibagi menjadi dua yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Hal yang kemudian menjadi kritik dari Ahimsa-Putra ialah bahwa penelitian harus diartikan sebagai pengumpulan data. Jadi yang bersifat kuantitatif atau kualitatif bukan metodenya tetapi datanya, tutur pria lulusan Master Antropologi Studi Indonesia, Rijksuniversiteit Leiden, Netherlands tahun 1980-an ini.
Kegiatan tahunan temu pakar sastra interdisipliner ini diharapkan dapat menjadi forum ilmiah bagi para pengajar dan peminat sastra bandingan. Hal itu perlu dilakukan agar kajian ilmu sastra dapat berkembang secara inovatif yang membandingkan disiplin ilmu lain. Kegiatan ini sudah diadakan tiap tahun guna memupuk silaturahim para pengajar dan peminat sastra bandingan yang ada di Indonesia. (Rudi/Byu)
Share It On: