
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., BATU–Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk PKM JATIMPRO 2025 yang dilaksanakan di Arboretum Sumber Brantas, Kota Batu, pada Sabtu, 26 Juli 2025.
Kegiatan bertema ‘Akar Brantas, Nafas Jawa Timur: Sinergi Alam dan Air untuk Kehidupan Berkelanjutan’ ini merupakan kolaborasi lima Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dari Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Jawa Timur.
Ada tim dari Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Negeri Malang (UM).
Tak hanya itu, kegiatan ini juga melibatkan delapan BUMD Air Minum di Jawa Timur, Perum Jasa Tirta I, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur. Sebanyak 50 pohon cemara setinggi 1,5 meter ditanam secara simbolik oleh masing-masing instansi yang hadir sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Kepala Pusat PKM Unesa, Andhega Wijaya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi karena meningkatnya pencemaran di kawasan DAS Brantas akibat aktivitas industri, pemukiman, dan pertanian.

www.unesa.ac.id
Menurutnya, kondisi ini bisa mengganggu ekosistem, menurunkan kualitas air, hingga akan berdampak besar terhadap ketersediaan air bersih di masa depan.
Andhega menambahkan, penanaman pohon menjadi langkah awal dari rangkaian program JATIMPRO. Sebagai bagian dari konsorsium lima PTN-BH, Unesa berperan dalam pengembangan kawasan bantaran Sungai Brantas, khususnya sebagai ruang edukasi dan kebugaran.
“Kami ingin bantaran sungai ini tak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi tempat yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat. Pembangunannya sudah dimulai dan akan direalisasikan tahun ini,” tutur dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) itu.
Gagasan lain yang tengah digodok Unesa adalah menjadikan wilayah sekitar sungai sebagai trek jogging atau taman kebugaran. “Di kawasan hulu, potensi lanskap pegunungan dapat dimaksimalkan sebagai ruang rekreasi. Sementara di hilir, suasana senja di tepian sungai dapat menjadi daya tarik baru,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa proses koordinasi antar lima PTN-BH serta lintas lembaga seperti BUMD, PJT I, dan DLH Provinsi harus terus diperkuat.
“Kami berharap kegiatan ini mampu membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian Sungai Brantas. Sebab, kerusakan di satu titik bisa berdampak besar pada daerah lainnya, terutama di bagian hilir yang sangat bergantung pada ketersediaan air dari hulu,” pungkasnya.[]
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim PKM Unesa
Share It On: