
Kadang hidup itu pilihannya hanya dua, berhenti atau melanjutkan perjuangan dengan segala pengorbanannya. Ika Emirulliah Hidayati memilih terus berproses hingga hasilnya berbuah manis.
Unesa.ac.id, SURABAYA—Perjuangan Ika Emirulliah Hidayati adalah kisah tentang keteguhan hati dan cinta pada ilmu. Mahasiswi Program Studi S-2 Pendidikan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini berhasil meraih gelar wisudawan terbaik jenjang magister pada Wisuda ke-116, dengan IPK sempurna 4.00.
Ika bukan hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berprestasi di dunia riset dan publikasi ilmiah. Bersama rekan-rekan awardee LPDP Unesa angkatan 2023, ia mencatatkan tiga publikasi bereputasi internasional pada jurnal Q1 dan Q2 sepanjang 2024 hingga 2025.
Prestasinya pun diakui di level internasional. Ia meraih medali perak bidang social science pada ajang ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2024 yang diselenggarakan Indonesia Young Scientist Association, Universitas Diponegoro, dan MILSET.
Tak berhenti di situ, ia juga menyabet medali emas di bidang yang sama pada Youth International Science Fair (YISF) 2024, kolaborasi antara Indonesia Young Scientist Association, Universitas Diponegoro, dan BUCA IMSEF Turki.
Lahir dan besar dari keluarga petani yang sederhana, Ika tumbuh sebagai pribadi yang tangguh dan mandiri. Sejak kuliah sarjana, ia menempuh pendidikan melalui beasiswa. Setelah lulus pada 2018, sebenarnya ia ingin langsung melanjutkan studi magister lewat beasiswa LPDP.
Namun, kesempatan menjadi ASN di Kota Batu membuatnya menunda niat tersebut. “Keputusan ini membuat saya fokus pada keluarga dan mendukung pendidikan adik terlebih dahulu,” ujarnya.
Tiga tahun kemudian, pada 2021, ia mencoba lagi mendaftar LPDP, tetapi gagal karena lintas jurusan. Meski sempat kecewa, ia tak menyerah. Pada 2022, ia kembali mencoba lewat jalur ASN/TNI/Polri, dan kali ini berhasil lolos. Ika memilih melanjutkan studi S-2 di Unesa, agar tetap bisa pulang-pergi dari Kota Batu, dekat dengan keluarga dan pekerjaannya sebagai guru.
Namun, perjalanan itu tidak mulus. Saat persiapan seleksi, pandemi Covid-19 melanda, dan ia sempat terpapar virus hingga harus isolasi mandiri. “Saya percaya kalau rezeki sudah digariskan, tidak ada yang bisa menghalangi,” ujarnya mantap.
Awal perkuliahan pun penuh ujian. Baru menikah pada akhir 2022, Ika harus ngontrak, hingga penyakit kronisnya kambuh dan membuatnya muntah darah. Sejak itu, ia memutuskan pulang-pergi naik bus atau kereta dari Kota Batu ke kampus setiap kuliah.
Tantangan semakin berat ketika ia hamil di semester kedua. Rasa mual yang hebat tak menyurutkan langkahnya. Ia tetap menyelesaikan seminar proposal di usia kandungan tujuh bulan.
Setelah melahirkan, perjuangan kembali diuji. Penyakitnya kambuh, ia harus menjalani terapi hormon, sementara tesis belum rampung dan masa studi LPDP makin mendesak.
Rasa lelah dan tekanan sempat membuatnya berada di titik terendah. Namun, dukungan dari suami, keluarga, dosen pembimbing, hingga pihak LPDP menjadi kekuatan besar baginya untuk bangkit. Ia menuntaskan penelitian dan berhasil sidang tesis pada Juli 2025.
Karya ilmiahnya berjudul “Keterhubungan Kadar Hemoglobin, Eating Behavior, dan Kebugaran Jasmani Siswa terhadap Hasil Asesmen Formatif dan Sumatif”. Penelitian itu ia lakukan di MTsN Kota Batu, tempatnya mengajar, berangkat dari keprihatinan bahwa proses belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh metode pembelajaran, tetapi juga oleh faktor fisiologis dan kebiasaan hidup sehat.
Kini, setelah menyelesaikan studi magister dengan gemilang, Ika masih menyimpan cita-cita besar: melanjutkan studi S-3, bahkan bila memungkinkan ke luar negeri. Namun, baginya menjadi guru tetap panggilan yang luhur.
“Kalau pun nanti saya hanya menjadi guru, itu bukan hal kecil. Karena dengan menjadi guru, saya bisa membentuk generasi-generasi yang cemerlang,” pungkasnya penuh syukur.][
***
Reporter: Azhar (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Dok Ika Emirulliah Hidayati
Share It On: