
Prof. Dr. Agus Suprijono, M.Si., dikukuhkan sebagai guru besar pengembangan pedagogik transformatif ips berbasis HOTS, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Unesa.ac.id. SURABAYA—Pendidikan sejati sejatinya adalah sebuah ruang kesadaran, sebuah proses mendalam untuk membentuk nalar kritis dan kemanusiaan. Di dalamnya, ilmu pengetahuan tidak sekadar ditransfer dari guru ke murid, tetapi menjadi pemantik refleksi yang mendorong peserta didik untuk memahami serta memaknai realitas sosial secara kritis.
Hal tersebut ditegaskan Prof. Dr. Agus Suprijono, M.Si., dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 29 Desember 2025 lalu.
Melalui pidato ilmiah bertajuk "Pendidikan sebagai Ruang Kesadaran: Rekonstruksi Pedagogik IPS melalui Dialektika HOTS dan Kemanusiaan", ia menyoroti fenomena pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang selama ini dinilai masih terjebak pada hafalan fakta, sejarah, dan geografi tanpa menyentuh realitas sosial kontemporer.
Guru besar bidang Pengembangan Pedagogik Transformatif IPS Berbasis HOTS itu menekankan perlunya rekonstruksi besar-besaran dalam pedagogi IPS. Menurutnya, pembelajaran harus bergeser dari pola hafalan menuju ruang dialogis yang humanistik. Dalam kerangka ini, ia menawarkan dialektika antara Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan kemanusiaan sebagai solusi transformatif.
"Melalui perpaduan keduanya, HOTS akan menajamkan daya analisis dan kreativitas siswa, sementara nilai kemanusiaan memberikan arah etis serta empati. Inilah yang akan membentuk peserta didik agar mampu bertindak adil dan reflektif dalam menghadapi persoalan masyarakat abad ke-21," jelasnya.
Rekonstruksi ini memposisikan kesadaran diri dan berpikir reflektif sebagai aspek psikologis yang terintegrasi dengan teori sosial. Dengan strategi yang tepat, keseimbangan antara aspek kognitif, sosial, dan moral dapat tercapai, sehingga siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang kuat dalam memecahkan masalah di tengah masyarakat.
Lebih jauh, gagasan ini diharapkan dapat membantu para guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang membangkitkan empati dan kesadaran moral siswa. IPS tidak boleh lagi dipandang sebagai mata pelajaran deskriptif semata, melainkan sebagai wadah untuk mendidik manusia agar cerdas secara spasial, emosional, dan sosial.
Pada akhirnya, transformasi pendidikan IPS ini bertujuan untuk membentuk masyarakat yang refleksif dan partisipatif. Sebuah tatanan masyarakat yang terbiasa berdialog secara rasional, menghargai keberagaman, dan senantiasa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis yang matang. ][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: