
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA—Program Studi S-1 Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan Forum Zakat (FOZ) menggelar kegiatan ‘Zakat Goes to Campus Chapter Unesa’ yang berlangsung selama dua hari, pada Rabu-Kamis, 15-16 Oktober 2025, di Auditorium FEB Unesa, Kampus I Ketintang.
Kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan nilai-nilai zakat di lingkungan pendidikan tinggi, dengan keyakinan bahwa kampus bukan hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan empati, kepedulian, serta kesadaran sosial dan spiritual di kalangan civitas akademika.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua DPRD Jawa Timur, Musyafak Rouf, yang menekankan pentingnya pengelolaan zakat secara profesional, terutama dengan melibatkan kalangan akademisi.
“Zakat tidak cukup hanya dikumpulkan dan disalurkan, tetapi perlu dikelola secara profesional. Kalangan kampus memiliki peran strategis dalam hal mewujudkan pengelolaan zakat yang lebih transparan dan berdampak nyata,” paparnya.
Keterlibatan anak muda dan civitas academica dapat mendorong tata kelola zakat yang lebih transparan, dinamis, dan berkelanjutan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, tambahnya.

www.unesa.ac.id
Wakil Dekan II FEB, Susanti menyampaikan bahwa pengelolaan zakat perlu dilakukan secara profesional dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
“Zakat bukan hanya kewajiban keagamaan, tetapi juga instrumen ekonomi dan sosial yang mampu mendorong kemandirian umat. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara profesional, akuntabel, dan transparan,” ujarnya.
Bendahara Umum FOZ, Neny Suhaeni menyampaikan bahwa kolaborasi antara FOZ dan Prodi Ekonomi Islam Unesa merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola zakat yang lebih profesional, transparan, dan berdaya guna.
“Sinergi antara kampus dan lembaga zakat sangat penting. Dunia akademik memiliki potensi riset dan inovasi, sementara lembaga zakat memiliki pengalaman praktis di lapangan. Jika keduanya berkolaborasi, kita bisa melahirkan model pengelolaan zakat yang lebih efektif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” paparnya.
Keynote Speech dari perwakilan Gubernur Jatim, Akh. Jazuli menekankan bahwa zakat tidak hanya menjadi wujud kepedulian sosial, tetapi juga harus berperan sebagai sarana transformasi sosial yang berkelanjutan.
“Zakat bukan hanya berbagi, melainkan berbagi secara produktif. Berbagi produktif berarti setiap pemberian harus mampu memberikan manfaat jangka panjang, mendorong perubahan sosial, serta memberdayakan penerimanya agar lebih mandiri,” ujarnya.

www.unesa.ac.id
Kegiatan Zakat Goes to Campus Chapter Unesa pada hari Rabu diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) serta talkshow bertema ‘Peran Zakat Produktif dalam Mewujudkan Generasi Mandiri dan Berdaya Guna’.
Dengan menghadirkan lima narasumber, yakni Husnul Khuluq, Pimpinan Bidang 4 Baznas Kota Surabaya; Abdul Wahid Rosjidin, Ketua Tim Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur; Ahmad Ajib Ridlwan, dosen Ekonomi Islam Unesa; Kholaf Hibatullah, Ketua FOZ Jatim; dan M. La Rayba Fie, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unesa.
Dalam sesi talkshow, para narasumber membahas optimalisasi zakat produktif di Jawa Timur yang memiliki potensi zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) mencapai Rp32 triliun, dengan target peningkatan zakat produktif hingga 60% pada tahun 2026.
Baznas menekankan pentingnya integrasi data sosial syariah serta pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di lingkungan kampus. Sementara itu, mahasiswa menyoroti bahwa zakat harus dipahami sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, bukan sekedar bentuk ketergantungan.
Pada hari berikutnya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan dua agenda utama, yaitu seminar tata kelola zakat bertema ‘Perbaikan Ekosistem Zakat Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045’ dan diskusi publik bertajuk ‘Urun Rembuk Menembus Blokade Gaza’. ][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: