THAILAND – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan kerja sama dengan Walailak University (WU) Provinsi Nakhon Si Tammarat, Thailand Selatan. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Dekan FBS Unesa Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd dengan Dekan Fakultas Sastra Universitas Walailak (Liberal Arts of Walailak University) Asst, Prof. Dr. Nibondh Tipsrinimit pada 12 September 2017 di Thailand.
MoA tersebut merupakan tindak lanjut MoU yang ditandatangani Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono dengan Rektor WU. Ikut menyaksikan dalam penandatangan MoA tersebut Vice President WU Assoc, Prof. Dr. Surin Maisrikrod.
Vice President dari WU Assoc, Prof. Dr. Surin Maisrikrod menyatakan kegembiraan dan dukungannya atas kesepakatan butir kerja sama antara Fakultas Sastra WU dengan Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, terutama untuk pengembangan instrumen penilaian kemampuan berbahasa Indonesia bagi mahasiswa WU yang akan mengikuti program incountry di Indonesia.
“Instrumen penilaian ini sangat berarti bagi calon peserta program, terutama untuk penyiapan kemampuan bahasa Indonesia mereka saat di Indonesia. Instrumen ini juga dapat dijadikan dasar bagi umpan balik program pembelajaran bahasa Indonesia di WU, khususnya pada Prodi Kajian Asia (Asian Study),” tuturnya dalam sambutannya.
Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd, yang berangkat ke Thailand menjelaskan bahwa WU dan Unesa dapat mengembangkan program 3+1 yang telah dilaksanakan oleh FBS Unesa dalam kerja samanya dengan Tianjin Foreign Study University (TFSU) di China. Dalam program ini mahasiswa TFSU dapat menempuh mata kuliah 3 tahun di perguruan tingginya dan 1 tahun di Indonesia (FBS Unesa).
“Mata kuliah yang ditempuh di Indonesia dapat dikonversikan ke kurikulum TFSU. Terhadap gagasan tersebut, pihak Liberal Arts WU sangat tertarik dan selanjutnya akan diadakan diskusi untuk membicarakan muatan kurikulum. FBS Unesa juga akan menjajagi pengiriman mahasiswa untuk PKL atau PPL di Wilayah Nakhon untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Mandarin, ataupun Bahasa Inggris,” jelas Bambang Yulianto. (RUS)
Share It On: