
Nama Farahdina Camelia (tengah-kostum hijau) dalam awarding kejuaraan paralayang September 2024 lalu.
Unesa.ac.id., SURABAYA—Nama Farahdina Camelia, atau yang akrab disapa Ella, mungkin belum sepopuler atlet nasional lainnya. Namun, di dunia paralayang, khususnya di Jawa Timur, kiprahnya sebagai atlet berbakat terus menanjak dan membanggakan.
Mahasiswi Prodi S-1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa ini telah menorehkan berbagai prestasi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Perjalanannya penuh tantangan, namun semangat dan keyakinannya membawa Ella terus melaju ke podium juara.
Ketertarikan perempuan kelahiran Jombang, 3 Januari 2003 ini pada dunia paralayang tidak lepas dari kedua orang tua serta pamannya, yang juga seorang atlet paralayang, menjadi fondasi kuat dalam perjalanan prestasinya.
Sejak kecil, Ella terbiasa melihat pamannya terbang dan akhirnya mencoba sendiri hingga jatuh hati pada olahraga ini. Perlahan, prestasi mulai diraih, dari kejuaraan tingkat provinsi hingga nasional.
Terbaru, pada Desember 2024, ia sukses meraih juara 3 Kejurda U-23 Putri, juara 3 Liga Jatim Seri 4 U-23 Putri, dan juara 1 Liga Jatim U-23 Putri. Namun, bagi Ella, kemenangan yang paling berkesan adalah saat meraih juara 1 di Troi Festival Paralayang Indonesia di Alor, NTT.
“Itu adalah kompetisi pertama saya di luar Jawa Timur, dan syukur alhamdulillah saya berhasil menjadi yang terbaik,” ucap mahasiswi angkatan 2022 itu.
Sempat Cidera dan Trauma

Farahdina Camelia mendarat dengan apik, yang dinilai langsung para tim juri di landing area.
Anak sulung dari lima bersaudara itu menceritakan perjalanan dan suka dukanya menapaki prestasi di bidang tersebut. Saat berlaga di Porprov Jatim 2023, ia nyaris menyerah karena sakit di tengah perlombaan. Namun, setelah mendapatkan perawatan medis dan beristirahat, ia kembali bertanding di kategori beregu dan berhasil membawa pulang medali emas di kategori lintas alam (XC).
Cobaan lain datang saat ia mengikuti kejuaraan di Lombok, NTB, Oktober 2024. Bus yang mengangkut para atlet mengalami kecelakaan, menyebabkan beberapa peserta harus dilarikan ke rumah sakit.
Kendati selamat dengan hanya luka ringan, pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam. Namun, Ella memilih tetap bertanding hingga kejuaraan selesai.
“Mengontrol mental itu yang paling sulit. Kadang saat latihan nilai saya bagus, tetapi di kejuaraan bisa turun drastis. Makanya saya belajar untuk tidak membuka nilai hingga perlombaan selesai, agar tetap fokus,” ujarnya.
Tekad dan Perjuangan

Perjuangan Farahdina Camelia meraih prestasi bidang ini tak main-main. Ia sempat cidera bahkan trauma. Itu tidak membuatnya berhenti untuk terus berprestasi.
Sebagai mahasiswa, Ella dituntut harus pintar membagi waktu antara latihan, kuliah, dan merawat adik-adiknya di rumah. Ia kurang aktif di organisasi, karena harus bersama adik-adiknya.
Latihan pun hanya bisa dilakukan setiap akhir pekan, sementara jika ada kejuaraan, ia harus mengatur izin kuliah sendiri. Ella mendapat dukungan dari dosen dan teman-temannya.
Dengan mengikuti kejuaraan, ia merasakan banyak manfaat dari mengikuti kejuaraan, seperti berkenalan dengan atlet-atlet dari berbagai daerah serta mendapatkan pengalaman terbang di lokasi baru dengan kondisi yang berbeda.
Motivasi Ella untuk terus berprestasi berawal dari rasa penasaran. Melihat atlet senior berjuang dan meraih medali memicunya untuk terus mencoba dan berkembang. Ke depannya, ia bercita-cita masuk Puslatda Jatim, mengikuti PON, serta berlaga di kejuaraan nasional dan internasional.
“Untuk saat ini saya ingin fokus di kategori akurasi dulu. Semoga ke depannya bisa berkembang lebih jauh,” harapnya.
Selain mengejar impian pribadi, Ella juga ingin mengenalkan olahraga paralayang kepada masyarakat. Ia berharap olahraga ini bisa lebih dikenal dan diminati oleh generasi muda.
Ella menekankan, berani mencoba dan mau berkembang merupakan prinsip yang dipegang di balik prestasinya. “Niat dan mental itu yang paling penting. Kuatkan niat, hadapi risikonya, dan pasrahkan hasilnya pada Tuhan,” tutupnya. []
***
Reporter: Zakariya Putra Soekarno (Fisipol)
Editor: @zam*
Foto: Dok. Farahdina Camelia
Share It On: