
KADO TERINDAH: Nur Indah Oktatiana Sya’bani persembahkan predikat wisudawan terbaik kepada kedua orang tua; Gandhi Wibisono dan Chsnul Chotimah yang terus mendukung penuh perjalanannya sampai di panggung wisuda.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Sosok guru yang sabar dan penuh kasih selalu meninggalkan kesan mendalam bagi Nur Indah Oktatiana Sya’bani. Dari tangan-tangan pendidik seperti itulah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu belajar tentang arti kasih, ketegasan, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai itulah yang kini menuntunnya hingga berhasil meraih predikat wisudawan terbaik FIP dengan IPK 3,89 dan predikat pujian, pada gelaran wisuda ke-117 Unesa.
“Guru bagi saya adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu. Mereka tegas tapi penuh kasih, menegur demi kebaikan, dan mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik,” tutur perempuan yang akrab disapa Tia itu.
Tia merupakan anak pertama dari lima bersaudara, dari pasangan Gandhi Wibisono dan Chsnul Chotimah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di Surabaya. Ibunya berjualan es jeruk di depan rumah, sementara ayahnya bekerja di perusahaan swasta.
Bagi Tia, kesederhanaan itu bukan keterbatasan, melainkan sumber kekuatan. Dari sana ia belajar arti kerja keras, kemandirian, dan empati. “Saya melihat bagaimana orang tua berjuang setiap hari. Itu membuat saya ingin membalas dengan cara yang mereka banggakan, lewat prestasi dan ketulusan,” ucapnya lirih.
Alasan itulah yang membuatnya semangat belajar. Saat di bangku SDN Menanggal 1 Surabaya, Tia terinspirasi dengan gurunya yang mengajar dengan sabar dan mengenal karakter setiap siswa. Salah satu momen yang membekas di ingatannya adalah ketika ia ditegur dengan lembut karena menunda pelajaran.
“Saat itu guru-guru sedang rapat. Karena tugas matematika belum selesai, saya dan teman-teman menunda pelajaran prakarya. Ketika guru prakarya datang, beliau tidak marah, tapi menasihati saya tentang pentingnya tanggung jawab dan disiplin waktu,” kenangnya.
Teguran lembut itu justru menanamkan kesan mendalam tentang arti menjadi guru yang bijak. Sejak saat itu, ia bermimpi untuk berada di posisi yang sama: mendidik dengan hati.
Saat duduk di SMA, Tia mengikuti tes kepribadian yang menunjukkan potensi besar di bidang sosial dan pendidikan. Hasil itu semakin menguatkan tekadnya untuk menempuh studi di PGSD Unesa.
Selama kuliah, mahasiswi kelahiran Surabaya, 21 Oktober 2002 ini aktif mengikuti berbagai program pengembangan diri seperti Surabaya Mengajar dan Kampus Mengajar (KM). “Di lapangan saya belajar banyak. Kadang teori tidak selalu sama dengan praktek. Tetapi justru dari situ saya belajar fleksibel dan berpikir solutif,” kata Tia.
Dari pengalaman mengajar itulah muncul ide untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Media Ajar NIO Studio untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia.”
Melalui penelitian berbasis Research and Development (R&D), Tia merancang NIO Studio, sebuah media pembelajaran berbasis website interaktif yang dilengkapi permainan edukatif dan visual menarik.
Media ini tidak hanya membantu guru menyampaikan materi, tetapi juga membuat siswa lebih antusias belajar. “Saya buat media yang lebih interaktif agar siswa semakin antusias belajar. Hasilnya bagus, dan respons sekolah juga positif,” jelasnya semangat.
Bagi Tia, menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang menghadirkan cinta dan keteladanan di kelas. Ia ingin menjadi pendidik yang membuat anak-anak merasa aman, dihargai, dan berani bermimpi.
Ke depan, ia berencana melanjutkan studi ke jenjang magister sambil membuka bimbingan belajar. “Saya ingin menjadi guru yang bukan hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga menginspirasi. Guru yang mengajar dengan hati, seperti guru-guru yang dulu mengubah hidup saya,” tutupnya. ][
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: