
Narasumber, Rojil Nugroho Bayu Aji, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), dan Roina Iranti Nur Fadillah sebagai moderator.
Unesa.ac.id, SURABAYA—'Mencintai Indonesia dalam Suka dan Duka’ merupakan tema yang dibahas dalam ‘Ngabuburit Bareng PPIS’ episode keempat pada Selasa, 25 Maret 2025. Topik tersebut dibahas oleh narasumber, Rojil Nugroho Bayu Aji, Kasubdit Ideologi, Moderasi beragama dan Bela Negara Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Roina Iranti Nur Fadillah sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, narasumber yang akrab disapa Rojil itu menjelaskan, nasionalisme mengalami transformasi, dari yang awalnya agar terbebas dari penjajahan menjadi satu spirit untuk membangun bangsa dan negara.
Berdasarkan hasil survey salah satu media menunjukkan, anak muda saat ini memiliki pemahaman baru tentang nasionalisme dan kebangsaan. Mereka memaknai nasionalisme tidak dengan mengangkat senjata, tetapi melalui kreativitas, inovasi, dan kontribusi nyatanya bagi masyarakat.
Seperti membangun kreativitas, menciptakan peluang ekonomi, dan memanfaatkan dunia digital. ” Tantangannya memang yaitu bagaimana kita dapat menguatkan nilai-nilai bangsa melalui cara-cara yang relevan dengan anak muda saat ini,” ucapnya.
Sebagai agent of change, mahasiswa berperan penting dalam memperkuat nasionalisme melalui penerapan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong dan saling membantu, yang menjadi spirit dalam menjalankan misi nasionalisme di era digital.
Mahasiswa harus menjadi pendobrak dan penggerak kemajuan dan perbaikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Rojil, memiliki perspektif yang berbeda itu wajar, dan merupakan bentuk pergerakan untuk memberikan aspirasi.
”Mahasiswa memiliki hak untuk berpendapat dengan catatan tidak melanggar ketertiban umum. Dengan menggunakan sumber yang relevan, mahasiswa dapat mengungkapkan kritik yang konstruktif dan berbasis fakta,” paparnya.
Rojil mendorong mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya, tetapi harus berbasis data dan informasi yang relevan agar bisa berpikir kritis. Penting untuk diingat bahwa kritik harus didukung kajian dan pemahaman yang komprehensif. ”Jangan sampai kita melakukan kritikan tanpa memahami konteks tersebut,” jelasnya. [*]
***
Reporter: Erlina Dwi Hidayanti (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: