
Program LCAS yang digagas Labschool Unesa ini seperti sistem KKN mahasiswa versi internasional, di mana para siswa terjun ke masyarakat untuk belajar banyak hal. Menariknya, program ini melibatkan peserta dari berbagai negara.
Unesa.ac.id., SURABAYA—Sebanyak 90 siswa SMP dan SMA Labschool Unesa resmi diberangkatkan menuju Desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang pada Senin, 24 November 2025 di Halaman Labschool Unesa, Lidah Wetan, Surabaya.
Mereka mengikuti program Labschool Character, Action, Solutio (LCAS) 2025, kegiatan pendidikan karakter berbasis aksi nyata yang untuk pertama kalinya diselenggarakan Labschool Unesa yang berkolaborasi dengan volunteer dari 27 negara di bawah koordinasi UNESCO.
Program yang diinisasi Kepala Badan Pengelola Labschool Unesa, Sujarwanto ini menghadirkan kolaborasi luas, mulai dari mahasiswa KKN-T Unesa, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), hingga volunteer internasional dari UNESCO dan Dejavato Foundation yang berasal dari Jerman, Prancis, Nigeria, India, Sierra Leone, Gambia, Yaman, Myanmar, hingga Timor Leste.
Kepala Pusat Penjamin Mutu dan Kerja Sama Labschool Unesa, Ima Widiyanah menjelaskan bahwa LCAS ini dirancang sebagai wahana pembelajara karakter melalui pengalaman langsung di masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi terjun langsung memahami dinamika sosial dan lingkungan desa. Mereka akan berkebun, berkolaborasi dengan warga, mengelola sampah, hinga problem solving. Ini merupakan program pertama kali sekaligus menjadi event intrnasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran mahasiswa KKN-T Unesa yang berkegiatan di desa tersebut selama empat bulan menjadi penguat kolaborasi lintas program. Para volunteer internasional juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas bersama siswa Labschool.
Lebih lanjut, Ima menjelaskan dipilihnya desa Gubukklakah karena karakteristiknya yang sesuai sebagai labotarium pembelajaran berbasis pengalaman. Berada di lereng Pengunugan Tengger, desa ini memiliki lanskap pertanian yang luas, komoditas hortikultura seperti kol, kentang, wortel, dan perkebunan jeruk, serta akases strategis menuju kawasan wisata Bromo Tengger Semeru.
“Siswa juga akan terlibat dalam aktivitas budaya seperti tari tradisional, memasak bersama ibu-ibu PKK, hingga kegiatan clean-up kawasan wisata bromo bersama volunteer Unesco. Semoga dengan kegiatan ini mereka lebih open minded, bisa berkomunikasi dengan warga, kolaborasi, dan melakukan community service,” jelas PIC program tersebut.
Kepala SMP Labschool Unesa 3 Surabaya, Dian Hijrah Saputra menyampaikan bahwa LCAS sangat sejalan dengan pendidikan fun learning dan project based learning yang selama ini diterapkan di sekolahnya.
Ia berharap siswanya memperoleh soft skills dan life skill langsung dari praktik di lapangan. Mereka akan melihat, menganalisis dan menciptakan karya yang berdampak. Setelah kembali, mereka juga akan menjadi agen penular semangat kepada teman-temannya di sekolah.
Para siswa menyampaikan antusiasnya mengikuti kegiatan ini. Abigail Nindya Kirana, siswi SMA Labschool Unesa 1 Surabaya, mengatakan bahwa ia menyiapkan diri untuk belajar beradaptasi dan mengahargai budaya desa.
“Kegiatannya menarik dan saya ingin dapat pengalaman baru. Saya juga belum pernah ke Bromo, jadi ini kesempatan yang sangat berharga,” katanya.
Sementara itu, Sultan Regan Arkananta, siswa SMP Labschool Unesa 3 Surabaya berharap bisa mendapatkan wawasan dari kegiatan di luar kelas. “Saya ingin belajar banyak hal di sana, tari, berkebun, futsal, komunikasi dengan warga dan eksplorasi alam,” ungkapnya.
Sebagai informasi, selama lima hari kegiatan mulai24-28 November 2025, para siswa akan menghasilkan beberapa luaran, di antaranya: video profil Desa Gubukklakah, konten promosi digital, pembuatan bank sampah, pertunjukan tari tradisional, dan produk olahan hasil kebun.
Adapun setiap kelompok akan bersama volunteer internasional, yang diharapkan dapat mengasah kemampuan bahasa asing siswa Labschool Unesa. []
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Share It On: