
Unesa.ac.id. SURABAYA—Venna Tanujaya, lulusan Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya berhasil menjadi Wisudawan Terbaik periode 117 dengan IPK 3,96. Sebuah capaian yang ia bangun dari ketekunan, disiplin, dan keberaniannya menembus batas lintas budaya.
Berkat proses belajar dan ketekunannya, kini Venna telah berkarier sebagai penerjemah bahasa Mandarin di PT Anlan Biotechnology Indonesia, perusahaan maklon minuman serat dan suplemen kesehatan asal Tiongkok.
Bagi Venna, bahasa Mandarin bukan sekadar rangkaian huruf yang ia terjemahkan setiap hari, tetapi jalan yang membawanya memahami dunia dan dirinya sendiri.
“Bahasa Mandarin bagi saya bukan hanya sarana bicara, tapi jendela yang membuka cara pandang baru terhadap dunia,” ujarnya.
Kecintaan itu tumbuh sejak SMA dan mengakar kuat ketika ia menempuh pendidikan di Unesa. Dari sanalah ia menanam keyakinan bahwa penguasaan bahasa dapat menjadi kendaraan untuk bergerak lebih jauh.
Di balik pencapaian akademiknya, perjalanan Venna tidak selalu mulus. Beberapa minggu menjelang wisuda, ayahnya, Tan Kiet Hua, berpulang akibat serangan jantung.
Kehilangan itu menyisakan ruang hening di hidupnya, tetapi bukan untuk membuatnya berhenti. Ia memilih berdiri tegak, melanjutkan langkah yang sudah ia jalani selama ini.
Sang ibu, Oei Gwan-Gwan, yang baru pulih dari sakit, menjadi sumber dukungan baginya. “Sedih itu pasti. Tapi saya tahu Papa ingin saya tetap kuat dan terus berjalan,” ucapnya lirih.
Ketekunan tersebut juga teruji di dunia kerja. Bekerja dengan rekan-rekan dari Tiongkok membuatnya terbiasa dengan ritme profesional yang cepat dan efisien. Dari sana, ia belajar bahwa ketepatan waktu, fokus, dan daya tahan bukan hanya tuntutan, tetapi kunci untuk terus tumbuh.
“Mereka sangat menghargai hasil, tapi juga saling mendukung,” ujarnya tersenyum. “Itu menular ke saya.”
Selama kuliah, Venna dikenal rajin, penuh inisiatif, dan nyaris tak pernah kompromi soal target. Ia kerap menyelesaikan skripsi di sela aktivitas organisasi dan kegiatan akademik hingga dini hari.
Karya tugas akhirnya berjudul ‘Makna Standar Kecantikan dalam Poster Iklan Kosmetik Carslan’ memperlihatkan perpaduan antara analisis budaya dan ketertarikannya pada dunia kecantikan.
“Topik itu terinspirasi dari pengalaman saya sebagai penerima beasiswa Confucius Institute, yang mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Central China Normal University (CCNU) Wuhan selama satu semester,” jelasnya.
Di Wuhan, ia tertarik pada merek kosmetik Carslan karena desain visualnya yang kuat namun tetap terjangkau. Ketertarikan itu menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana budaya mempresentasikan perempuan melalui simbol-simbol visual.
Pengalamannya di Wuhan juga menanamkan wawasan tentang keberagaman. Mahasiswa yang ia temui datang dari Eropa, Amerika, Asia Tengah, hingga Afrika. Perbedaan bahasa, kebiasaan, dan cara pandang justru membuatnya memahami bahwa toleransi lahir dari kesediaan untuk belajar.
“Kami belajar bersama dan saling menghargai perbedaan,” kenangnya.
Bagi Venna, keberhasilan bukan sekadar siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, tetapi siapa yang tetap melangkah meski jalannya sunyi. Ia sudah membuktikan bahwa ketekunan mampu membuka ruang-ruang baru—dari Surabaya, Wuhan, hingga Jakarta.
Kini, setiap kali menatap huruf Mandarin di layar komputernya, Venna tahu ia sedang menulis bab baru dalam hidupnya. Bab yang diawali tantangan, tetapi tumbuh menjadi kisah tentang kekuatan, kasih, dan keyakinan.
“Kalau ada yang saya pelajari dari semua ini, Tuhan tidak pernah terlambat memberi waktu terbaik,” tutupnya. []
***
Reporter: Sindy Riska Fadillah (Fisipol)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Venna Tanujaya
Share It On: