
Juara 1 Lomba Poster Digital dalam ajang bertema �Ekonomi Hijau Partisipatif: Inovasi dari Pinggiran untuk Masa Depan Kota� di Universitas Negeri Jember.
Unesa.Ac.id-Jember- Prestasi membanggakan ditorehkan tim mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik (FT). Mereka berhasil meraih Juara 1 Lomba Poster Digital dalam ajang bertema “Ekonomi Hijau Partisipatif: Inovasi dari Pinggiran untuk Masa Depan Kota” yang digelar di Universitas Negeri Jember pada Sabtu, 22 November 2025.
Tim yang terdiri dari Nathan Syawall Gunawan (ketua), Ladya Carissa Tri Hapsari (anggota), dan Alfafa Ramadhani (anggota) dengan pembimbing Nurul Makhmudiyah itu mengusung judul SAKTIH (Sinergi Aksi Kreatif Transisi Inklusif Hijau) yang menghadirkan inovasi menarik terhadap potensi kampung kota, khususnya Kampung Peneleh Surabaya.
Ketua tim, Nathan Syawall Gunawan mengatakan, tim mengembangkan konsep poster berbasis riset lapangan, observasi warga, hingga penyusunan strategi transformasi lorong kota menjadi ruang hijau fungsional. Inspirasi itu datang dari kondisi lorong di RT 06 RW 03 Kampung Peneleh sebuah kawasan heritage yang dikenal padat, tetapi kaya potensi ruang mikro.
“Di Peneleh tidak ada bangunan heritage besar di titik itu, tetapi ada potensi ‘sakti’ yang bisa muncul kalau disentuh dengan kolaborasi dan kreativitas,” ujarnya.
Nathan menjelaskan, judul SAKTIH dipilih karena mencerminkan gagasan bahwa perubahan lingkungan tidak harus dimulai dari skala besar. Tapi, melalui lorong sempit pun bisa menjadi motor ekonomi hijau jika dikelola melalui aksi kreatif, inklusif, dan melibatkan warga.
Poster mahasiswa angkatan 2024 tersebut memvisualisasikan berbagai pendekatan, mulai dari pemanfaatan tanaman rambat, vertical garden, sistem panen air hujan, hingga pengembangan eco-UMKM dan wisata heritage berbasis edukasi lingkungan.
Mereka menawarkan berbagai inovasi untuk mewujudkan kampung hijau terpadu, salah satunya melalui pembentukan zona-zona fungsional di lorong permukiman. Setiap zona memiliki fungsi ekologis dan edukatif berbeda, seperti Zona Aromaterapi dengan tanaman melati dan lavender, Zona Edukasi Toga, Zona Resapan berbasis biopori dan rainwater harvesting, hingga Zona Rehat yang dirancang sebagai ruang interaksi warga.
“Konsep zonasi ini tidak hanya memperindah lorong, tetapi juga menghadirkan micro-climate improvement yang dapat menurunkan suhu sekitar, meningkatkan kualitas udara, hingga memperkuat ruang sosial warga,” jelas Nathan.

Tim SAKTIH saat memaparkan presentasi di hadapan para juri
Dari sisi ekonomi, tim SAKTIH memasukkan elemen produk eco-UMKM seperti minuman herbal lorong, souvenir berbasis tanaman lokal, hingga eco-photospot yang berpotensi menjadi sumber pemasukan komunitas.
Tidak berhenti di situ, tim juga mengusulkan Eco-Heritage Experience, yaitu alur wisata kecil yang menggabungkan sejarah Peneleh dengan praktik penghijauan modern. Melalui pendekatan ini, kampung tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik yang memperkenalkan cerita kota dan praktik keberlanjutan.
Salah satu anggota, Alfafa Ramadhani menceritakan, meskipun pendaftaran lomba bersifat mendadak hanya H-1 penutupan, timnya tetap memberikan performa maksimal. “Kami harus bergerak cepat, riset cepat, diskusi cepat tapi tetap memastikan outputnya matang,” tuturnya.
Ia menjelaskan, proses perancangan dimulai dari pemetaan potensi, identifikasi isu, hingga penyusunan zonasi lorong, mulai dari gerbang penyegar tanaman, zona aromaterapi, edukasi Toga, zona resapan, hingga area rehat. Setiap komponen diambil berdasarkan kondisi riil lapangan sehingga poster tidak hanya estetis, tetapi aplikatif.
“Tantangan terbesar bagi kami ketika menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi satu lembar poster tanpa kehilangan substansi. Kami merangkum banyak ide dalam ruang yang terbatas. Revisi dilakukan berkali-kali hingga mendapatkan keseimbangan antara pesan, data, dan visual,” imbuhnya.
Sementara itu, Ladya Carissa Tri Hapsari anggota yang lain menambahkan bahwa tema besar lomba Ekonomi Hijau Partisipatif, memiliki keterkaitan erat dengan peran strategis generasi muda. Menurutnya, anak muda hari ini memiliki kombinasi kekuatan yang sulit ditandingi yakni kreativitas, akses informasi yang luas, serta keberanian untuk mencoba solusi baru yang lebih berkelanjutan.
Menurut Ladya, ekonomi hijau tidak sekadar berbicara soal penanaman pohon atau penghijauan visual. Tetapi bagaimana menciptakan nilai tanpa merusak ekosistem melalui urban farming, produk eco-UMKM, wisata edukasi, hingga sirkular ekonomi.
“Generasi muda dapat membantu masyarakat memahami peluang baru, mengembangkan inovasi sederhana yang berdampak, dan memastikan bahwa proses transformasi lingkungan berjalan inklusif, relevan, serta berkelanjutan untuk jangka panjang,” ujarnya.
Tim berharap kemenangan ini bukan menjadi titik akhir, tapi dapat berkembang menjadi prototype lorong hijau yang benar-benar diterapkan di Kampung Peneleh. Tim membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah kota Surabaya dan akademisi untuk mengoptimalkan desain yang sudah dibuat.
“Kami ingin gagasan ini kembali kepada warga. Kalau bisa diwujudkan, itu akan menjadi dampak paling nyata dari proses akademik,” pungkas Nathan.
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @sir
Share It On: