
Unesa.ac.id., SURABAYA—Sinergi antar-kampus menjadi salah satu keniscayaan dalam memperkuat tata kelola lingkungan kampus yang ramah dan nyaman serta mendukung ekosistem tridarma perguruan tinggi. Hal itulah yang mendasari pertemuan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Ruang Rapat Lantai 9, Gedung Rektorat Kampus II Lidah Wetan, pada Kamis, 2 Juli 2026.
Pertemuan tersebut dalam rangka sharing best practice pengelolaan sampah dan penerapan zero waste sebagai bagian dari pengembangan kampus hijau yang berkelanjutan.
Direktur Unesa Smart Sustainability Campus (USSC), Pradini Puspitaningayu, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antar kampus dalam mewujudkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan
“Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya memperkuat implementasi konsep zero waste, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang mendukung terwujudnya kampus yang cerdas, hijau, dan berkelanjutan," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Program Penataan Kawasan Lingkungan Berbasis Kampus Hijau UNJ, Dr. Widya Parimita, S.E., M.P.A., mengatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan memperkaya wawasan mengenai tata kelola lingkungan sekaligus memperdalam penerapan manajemen risiko di lingkungan kampus.
UNJ memiliki komitmen besar untuk membangun ekosistem kampus yang berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek pengelolaan sampah, tetapi juga tata kelola lingkungan secara menyeluruh.
"Banyak hal yang bisa kita belajar bersama, seperti bagaimana peran pimpinan dalam membangun kebijakan dan budaya kampus yang peduli terhadap lingkungan. Hasil pertemuan ini tentu akan menjadi referensi yang sangat baik untuk kami implementasikan di UNJ," tuturnya.
Dalam sesi pemaparan, Kepala Subdirektorat Eco Green Environment and Office Unesa, Suryanto Agung Prabowo, M.Pd., menjelaskan bahwa Unesa mengusung konsep 'Sampah di Unesa Selesai di Unesa' sebagai bagian dari komitmen Unesa Smart Sustainability Campus.

Melalui konsep tersebut, seluruh sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus diupayakan selesai dikelola secara mandiri tanpa bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA).
Ia menjelaskan bahwa sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, pakan ternak, hingga media budidaya maggot. Sementara itu, sampah anorganik dipilah dan didaur ulang menjadi biji plastik, kertas daur ulang, serta diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau briket sebagai bahan bakar alternatif.
Bahkan residu organik juga dimanfaatkan menjadi biomassa yang mendukung energi terbarukan dan ekonomi sirkular. Seluruh proses tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi serta mendukung pencapaian berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs).
Usai diskusi, rombongan UNJ diajak meninjau secara langsung berbagai fasilitas pendukung pengelolaan lingkungan di Unesa, mulai dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), kawasan hutan kampus, hingga Laboratorium Kewirausahaan Unesa. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






