
Unesa.ac.id., SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) membahas penguatan layanan pendidikan bagi mahasiswa disabilitas melalui pertemuan di Ruang Wakil Rektor 3 Unesa, Senin (10/8/2026). Pertemuan tersebut membahas tata kelola Unit Layanan Disabilitas, layanan akademik, sarana dan prasarana, kesiapan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pendidikan inklusif.
Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik pengelolaan layanan disabilitas di perguruan tinggi. UNW melakukan kunjungan benchmarking ke Pusat Unggulan Ilmu (PUI) Disabilitas Unesa sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem layanan bagi mahasiswa disabilitas yang akan dikembangkan di lingkungan kampusnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan UNW, Sigit Ambar Widyawati, menyampaikan bahwa penguatan layanan disabilitas membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, mulai dari fasilitas fisik, layanan akademik hingga sumber daya manusia. Menurutnya, pengalaman dan praktik yang berkembang di perguruan tinggi dapat menjadi bahan untuk memperkaya pengembangan layanan pendidikan inklusif.
"Kami ingin belajar terkait bagaimana nanti dapat menerima mahasiswa disabilitas dan memberikan layanan yang sebaik-baiknya, mulai dari sarana prasarana pendukung secara fisik, layanan akademik, hingga penyiapan SDM kami," ujarnya.

Dalam diskusi sekaligus penjajakan inovasi disabilitas Unesa itu, kedua pihak membahas pentingnya membangun lingkungan kampus yang mampu menerima mahasiswa disabilitas secara menyeluruh. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah sosialisasi kepada sivitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, agar pemahaman mengenai keberadaan dan kebutuhan mahasiswa disabilitas tidak hanya menjadi tanggung jawab unit layanan, tetapi menjadi bagian dari budaya kampus.
Perwakilan Unesa, Direktor Unesa Science Center, Mochamad Purnomo menjelaskan tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia dan lingkungan akademik yang mendukung keberadaan mahasiswa disabilitas. Penguatan pemahaman di lingkungan kampus menjadi bagian penting agar layanan yang diberikan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga mencakup dukungan dalam proses pembelajaran dan interaksi akademik.
Aspek lain yang dibahas adalah pemanfaatan Learning Management System (LMS) untuk mendukung fleksibilitas layanan akademik. Sistem tersebut memungkinkan mahasiswa tetap mengakses pembelajaran meskipun berada di luar kampus, termasuk mahasiswa disabilitas yang juga menjalani aktivitas sebagai atlet dan harus mengikuti kompetisi di berbagai daerah.
Ketua Pusat Unggulan Ilmu Disabilitas (PUID) Unesa, Budiyanto menuturkan bahwa Unesa konsern dengan riset dan inovasi yang menjawab tantangan dan kebutuhan kelompok disabilitas. Inovasi yang dihasilkan digunakan di kampus, di sekolah, bahkan desiminasinya hingga ke luar negeri, Malaysia.

Ia melanjutkan, pengembangan layanan disabilitas relevan dengan pengalaman Unesa yang saat ini memiliki 192 mahasiswa disabilitas yang tersebar di 36 program studi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari praktik pengelolaan pendidikan inklusif yang terus dikembangkan untuk memastikan mahasiswa disabilitas memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan dan mengembangkan potensinya.
Selain penguatan layanan, pertemuan juga membuka peluang pengembangan kerja sama di bidang penelitian. Sigit berharap dosen-dosen UNW yang memiliki perhatian pada isu disabilitas dapat mengembangkan penelitian bersama dengan para pakar di PUID Unesa.
Kolaborasi riset tersebut diharapkan dapat memperluas kajian mengenai pendidikan dan layanan disabilitas sekaligus menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperkuat praktik pendidikan inklusif di perguruan tinggi.
Unesa juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi lain dalam pengembangan layanan disabilitas. Berbagi pengalaman dan pengetahuan antarkampus diharapkan dapat memperluas akses terhadap pendidikan tinggi yang inklusif sekaligus mendorong semakin banyak perguruan tinggi memiliki sistem layanan yang mampu mendukung mahasiswa disabilitas secara berkelanjutan. ][
***
Reporter: Azam Mudzaky (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






