
Unesa.ac.id., SURABAYA— Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Sports Center (USC) berkolaborasi dengan Federation Internationale de Basketball (FIBA) Indonesia menggelar Sharing Session bertajuk “Sports for Development and Peace” di Home Theater, Gedung Rektorat Unesa Kampus II Lidah Wetan pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Agenda ini dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa, bahwa olahraga tidak hanya berorientasi pada prestasi dan perolehan mendali, tetapi juga dapat menjadi media untuk membangun masyarakat, meningkatkan kesehatan, mendorong inklusivitas, serta menciptakan perdamaian. Kegiatan tersebut mengahadirkan Sarah Nicolina Gagola, perwakilan FIBA Indonesia.
Sekretaris USC, Donny Ardy Kusuma menyampaikan bahwa olahraga secara alami mengajarkan nilai-nilai dasar kemanusiaan, seperti kerja sama, rasa hormat, disiplin, dan empati yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
“Agenda ini bisa dijadikan mahasiswa sebagai ruang diskusi yang interaktif dengan mendapatkan wawasan mendalam tentang ilmu keolahragaan,” ujarnya.
Sarah Nicolina Gagola menjelaskan bahwa sport development befokus pada pencapaian prestasi atlet, perebutan medali, kemenangan, serta pembinaan atlet profesional. Hal tersebut berbeda dengan sport for development and peace, yang menempatkan olahraga sebagai media strategis untuk mendorong perubahan perilaku sosial dan perdamaian.
“Indonesia perlu mengalihkan fokus yang semula hanya berpusat pada segelintir atlet profesional ke arah masyarakat, agar mereka juga mendapatkan manfaat aktivitas fisik sepanjang hayat,” paparnya.

Ia juga membahas program global “basketball for good”. Program FIBA tersebut menggunakan bola basket sebagai media pembelajaran terstruktur untuk mengatasi berbagai persoalan sosial di wilayah yang memiliki keterbatasan akses olahraga.
Program ini berfokus pada lima aspek utama, yaitu perkembangan anak dan remaja, kesehatan dan pencegahan penyakit, kesetaraan gender, inklusi bagi penyandang disabilitas, serta integrasi sosial dan perdamaian.
“Kami memanfaatkan kekuatan permaianan bola basket dan nilai-nilai positif di dalamnya untuk membantu anak dan komunitas tumbuh lebih sehat, percaya diri, inklusif, dan peduli terhadap sesama,” tambahnya.
Peserta, Mohammad Teuku Raya Adriano mahasiswa D-4 Kepelatihan Olahraga angkatan 23 menilai bahwa olahraga tidak hanya berfokus pada performa fisik atau prestasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pembangunan karakater serta alat pemersatu yang mampu menyatukan masyarakat.
“Saya berharap adanya realisasi program basketball for good pada tahun 2027 dengan merekrut relawan sebagai penggerak kegiatan. Semoga program tersebut dapat berjalan lebih cepat agar mahasiswa Unesa mendapatkan pengalaman praktis untuk terjun langsung,” harapnya. ][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






