
Unesa.ac.id. SURABAYA—Moto ‘Growing with Character’ dan slogan “Satu Langkah di Depan” yang kerap diucapkan dalam berbagai kesempatan bukanlah sebatas logan, melainkan bagian dari kerangka nilai dan budaya ke-Unesa-an yang menjiwai aktivitas tridarma di kampus ‘Rumah Para Juara.’
Budaya ke-Unesa-an itu ‘dikodifikasi’ dalam bentuk buku dan dibedah oleh para pakar di Auditorium Rektorat Kampus II Lidah Wetan, pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan yang dileading Senat Akademik Universitas (SAU) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengusung tema ‘Unesa Bergerak untuk Generasi Emas 2045: Membumikan Nilai Budaya Keunesaan.’
Dalam kegiatan tersebut, SAU Unesa, Setya Yuwana memberikan gambaran mengenai posisi budaya ke-Unesa-an di tengah arus kebudayaan nasional. Jika budaya ke-Indonesiaan merupakan konsensus kebangsaan yang melingkupi nilai Pancasila, maka budaya ke-Unesa-an adalah wujud operasionalnya yang khas di tingkat Unesa.
Karakter khas ini diejawantahkan melalui aksi nyata, kehidupan akademik, seperti budaya inklusi yang ramah disabilitas, spirit sportivitas dan disiplin dari dunia olahraga, serta kearifan seni pertunjukan. Staf Ahli Rektor Unesa, Bambang Yulianto, menyampaikan bahwa nilai-nilai tersebut diintegrasikan secara langsung ke dalam ruang akademik dan pergaulan sehari-hari.

"Keunggulan bidang keolahragaan, reputasi seni, dan layanan unit disabilitas bukan sekadar hiasan reputasi. Kami mendorong agar nilai-nilai ini diintegrasikan ke dalam kurikulum mata kuliah hingga topik penelitian lintas disiplin," tutur guru besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) itu.
Penerjemahan nilai ke-Unesa-an ini tidak lepas dari falsafah ke-Unesa-an. Misalnya, pada moto Growing with Character. Moto ini ditempatkan sebagai fondasi pembentukan karakter civitas akademika di era disrupsi, termasuk dalam menyikapi maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di dunia pendidikan.
Redaktur Majalah Panjebar Semangat Kukuh Setyo Wibowo bersama Guru Besar FBS Unesa Kisyani Laksono menyoroti bahwa Growing with Character harus menjadi penyeimbang etika.

Mahasiswa diajak memanfaatkan AI secara kritis sebagai mitra berpikir untuk memperdalam penalaran, bukan sebagai sarana instan untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami logika di balik karya tersebut.
Pakar dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Sahid Teguh Widodo, menambahkan bahwa kebudayaan kampus baru terasa hidup apabila bertransformasi menjadi kesadaran internal.
"Nilai budaya harus bertransformasi dari sekadar kewajiban eksternal menjadi kehendak internal. Tanpa kearifan, kesadaran budaya hanya menjadi verbalisme kata-kata, dan inovasi teknologi menjadi teater sepi tanpa dampak kemanusiaan," jelas Sahid Teguh Widodo.
Melalui bedah dan perumusan panduan etika ini, perwakilan mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi angkatan 2023, Eka Putra Adi Yulianto, berharap nilai-nilai kebudayaan Unesa dapat terus diterapkan secara konsisten dalam kehidupan berkampus dan bermasyarakat. ][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






