
Unesa.ac.id. SURABAYA— Perubahan zaman yang berlangsung cepat tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi dan informasi, tetapi juga tantangan dalam membedakan tuntunan dan tontonan. Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi dalam acara Unesa Berselawat yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Halaman Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan, Surabaya, Minggu (30/8/2026).
Ribuan pimpinan, dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti rangkaian selawat dan zikir yang diselenggarakan Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unesa. Kegiatan tersebut menjadi penutup rangkaian Pekan Raya Mahasiswa sekaligus bagian dari peringatan Dies Natalis ke-62 Unesa.
Wakil Rektor I Unesa, Martadi mengatakan perubahan menuju era ketidakpastian dan post-truth membutuhkan kesadaran serta kewaspadaan agar masyarakat tidak kehilangan kemampuan membedakan nilai yang seharusnya menjadi tuntunan.

“Kita tahu hari ini hidup di era ketidakpastian, era post-truth. Era di mana tontonan bisa menjadi tuntunan dan sebaliknya tuntunan bisa menjadi tontonan. Tentu kita semua harus terus meningkatkan kesadaran kita, terus meningkatkan kewaspadaan kita,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu cara menghadapi kondisi tersebut adalah dengan terus menjaga kesadaran diri. “Salah satu cara yang paling efektif untuk bisa selamat di era ini adalah kita selalu eling dan waspada,” tambahnya.
Pesan tersebut selaras dengan ajakan Habib Ali Zainal Abidin kepada jemaah untuk menjadikan majelis sebagai ruang untuk benar-benar menghidupkan tuntunan, bukan sekadar menyaksikan rangkaian kegiatan keagamaan.
“Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk ikut membaca sholawat. Jangan sampai tuntunan menjadi tontonan, tontonan menjadi tuntunan,” ucap Habib Bidin.
Ia juga mendoakan Unesa agar terus berkembang dan memberi manfaat pada momentum dies natalis. “Semoga di Dies Natalis yang ke-62 ini, Unesa semakin maju, semakin berkah, semakin bermanfaat, dan semakin berprestasi,” ujarnya.

Sementara itu, KH Ahmad Anwar Zahid menyoroti pentingnya menuntut ilmu, dan hubungan spiritual antara peserta didik dan pendidik dalam proses pendidikan. Menurutnya, kebermanfaatan ilmu tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga hubungan yang baik antara murid dan guru.
“Murid itu tidak boleh putus alaqah rohaniah (hubungan spiritual) dengan gurunya. Jika ingin ilmunya bermanfaat dan berkah, harus ada alaqah rohaniah,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Sabilun Najah tersebut.
Pesan-pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui tausiah. Sejumlah mahasiswa juga diajak berdialog langsung bersama para ulama dan pimpinan Unesa. Dalam sesi tersebut, diberikan pula bantuan beasiswa pendidikan kuliah kepada mahasiswa.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat. Ribuan jemaah dari sivitas akademika dan masyarakat, termasuk rombongan pencinta selawat Zahir Mania dan Anza Mania, mengikuti lantunan selawat Majelis Selawat Azzahir Pekalongan. ][
***
Reporter: Dinda Aulia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






