
Unesa.ac.id, SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membekali mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Australia dengan pemahaman mengenai ketahanan mental, personal branding, serta pengelolaan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat/PKM) yang diselenggarakan Unesa bersama University of Queensland Indonesian Student Association (UQISA) di Brisbane, Australia, pada 21–27 September 2026.
Program ini menjadi bagian dari inisiatif pengabdian masyarakat (PKM) internasional Unesa melalui kegiatan psychoeducational workshop dan academic engagement sessions bagi mahasiswa Indonesia di Brisbane dengan fokus pada pengelolaan stres, work-life balance, resiliensi, dan pengembangan diri.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua PKM Diana Rahmasari menyampaikan materi mengenai pengelolaan stres dan keseimbangan kehidupan serta pekerjaan (stress management and work-life balance).
Materi ini menyoroti pentingnya kemampuan mahasiswa dalam mengatur tuntutan akademik, aktivitas pribadi, serta berbagai tanggung jawab lain agar tetap mampu menjalani kehidupan secara seimbang.
Dekan Fakultas Psikologi Unesa tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa yang berada jauh dari lingkungan asal berpotensi menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, perubahan lingkungan, perbedaan budaya, hingga persoalan finansial. Kondisi tersebut perlu dihadapi dengan kemampuan adaptasi agar mahasiswa tetap dapat menjalankan aktivitasnya secara optimal.
“Mahasiswa perlu memahami kondisi dirinya, mengenali sumber tekanan, dan memiliki strategi untuk mengelola berbagai tuntutan agar aktivitas akademik maupun kehidupan sehari-hari dapat berjalan lebih baik,” ujar Diana.

Selain pembahasan mengenai keseimbangan hidup, kegiatan tersebut juga menghadirkan materi mengenai ketahanan mental dan personal branding yang disampaikan oleh Direktur Humas, Informasi Publik, dan Protokoler Unesa Vinda Maya Setianingrum.
Dalam materinya, Dosen prodi Ilmu Komunikasi Unesa tersebut menjelaskan bahwa ketahanan mental merupakan kemampuan seseorang untuk bangkit kembali ketika menghadapi tekanan, kegagalan, maupun tantangan kehidupan.
Menurutnya, mahasiswa yang memiliki resiliensi mampu memproses persoalan secara lebih baik, mengambil pelajaran dari pengalaman, serta mencari solusi ketika menghadapi situasi sulit. Ia juga menjelaskan bahwa menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting agar mahasiswa dapat tetap produktif dan mengambil keputusan secara rasional ketika berada dalam kondisi penuh tekanan.
“Ketahanan mental bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami tekanan, melainkan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan, beradaptasi, dan tetap berkembang dari setiap pengalaman,” katanya.
Ia juga menyampaikan pentingnya personal branding bagi mahasiswa yang memiliki pengalaman belajar di luar negeri. Ia menjelaskan bahwa personal branding berkaitan dengan cara seseorang membangun persepsi melalui kompetensi, karakter, komunikasi, serta konsistensi tindakan.
Lebih lanjut dalam sesi yang sama, Direktur Branding, Marketing, dan Media Unesa Herma Retno Prabayanti menambahkan bahwa pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi modal untuk membangun jejaring internasional, memperluas sudut pandang global, serta menunjukkan kemampuan adaptasi dalam lingkungan multikultural. Hal tersebut menjadi nilai tambah bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Indonesia di Brisbane memperoleh bekal psikologis dan pengembangan diri yang dapat mendukung proses adaptasi selama berada di luar negeri. Program kolaborasi bersama UQISA tersebut menjadi langkah Unesa dalam memperluas kontribusi akademik melalui pengabdian masyarakat tingkat internasional. [Unesa]






