
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa)menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan (P3MAWA) pada 6–8 Februari 2026 di Hotel Luminor, Sidoarjo. Langkah ini diambil sebagai strategi akselerasi untuk menyiapkan dosen pendamping yang kompeten guna mengawal prestasi mahasiswa di kancah nasional maupun internasional.
Direktur Kemahasiswaan dan Alumni, Muhamad Sholeh, menjabarkan bahwa P3MAWA bertujuan memberikan pembekalan strategis bagi para dosen agar mampu memberikan arahan dan pendampingan yang optimal. Hal ini dianggap krusial, mengingat banyak dosen muda inovatif yang memiliki semangat tinggi namun belum mendapatkan standardisasi pendampingan yang mumpuni.
Urgensi kegiatan ini berkaitan erat dengan target besar Unesa menghadapi Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) pada tahun 2027. Sholeh menegaskan bahwa tahun 2026 merupakan masa krusial untuk mengumpulkan portofolio prestasi sebagai "tagihan" akreditasi mendatang.

www.unesa.ac.id
"Target akhirnya adalah mengonversi partisipasi mahasiswa menjadi raihan medali emas, mulai dari lomba inovasi digital hingga Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kami sengaja menggelar pelatihan ini di awal tahun agar strategi pendampingan memiliki napas yang lebih panjang dan terukur," jelas Sholeh.
Kegiatan ini diikuti oleh 86 dosen muda pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Selama tiga hari, mereka dibekali materi oleh instruktur bersertifikasi nasional dari berbagai perguruan tinggi ternama seperti ITS, IPB, Undip, dan internal Unesa. Kurikulum pelatihan pun telah disesuaikan dengan standar Jam Pelajaran (JP) yang diatur secara nasional oleh Belmawa.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi, menekankan bahwa pasca-penetapan Unesa sebagai PTN-BH, fokus institusi memperkuat kualitas di dalam dan meningkatkan rekognisi internasional. Menurutnya, kegiatan kemahasiswaan dan akademik adalah dua aspek komplementer yang tidak bisa dipisahkan dalam membangun kompetensi lulusan yang komprehensif.

www.unesa.ac.id
"Dosen pendamping memiliki peran vital dalam mengasah soft skills dan jiwa kepemimpinan mahasiswa yang tidak sepenuhnya terakomodasi di ruang kelas. Kita harus mendorong mahasiswa untuk mulai masuk ke international event, baik itu seminar maupun kompetisi tingkat dunia," tegas Martadi.
Rangkaian P3MAWA ini tidak hanya membekali peserta dengan teori, tetapi juga praktik langsung melalui studi kasus ormawa dan teknik negosiasi. Para dosen diajak mendalami tupoksi pembina yang dikaitkan dengan sejarah perkembangan dinamika kemahasiswaan agar mampu menjaga marwah organisasi tetap sehat.
Menutup arahannya, ia berpesan agar para pendamping mampu menghidupkan dinamika kampus yang tetap dinamis namun terkendali. "Kembangkan transfer keilmuannya dan diskusikan isu-isu krusial. Kita ingin mahasiswa aktif bergerak, namun tetap dalam koridor pengembangan karakter yang positif bagi institusi," pungkasnya.][
***
Reporter: Tarisa Adistia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: