
Tim pakar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) diundang khusus sebagai pembicara kunci dalam The 4th East Asian Regional Conference on Augmentative and Alternative Communication (AAC) di Hangzhou, Tiongkok. Hal ini menegaskan posisi Unesa sebagai pelopor inovasi disabilitas di kancah dunia.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Dosen sekaligus tim peneliti Disability Innovation Center (DIC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang dipimpin Budiyanto dan Khofidotur Rofiah hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker) dalam The 4th East Asian Regional Conference on Augmentative and Alternative Communication (AAC).
Konferensi yang berfokus pada penerapan AAC dalam pendidikan dan kehidupan bagi penyandang disabilitas ini berlangsung di Zhejiang Vocational College of Special Education, Hangzhou, Tiongkok, pada 15—17 Januari 2026.
Dalam forum internasional tersebut, delegasi Unesa memaparkan materi bertajuk "Signalong Indonesia: New Tools for Inclusive Education". Paparan ini menyoroti urgensi penyediaan alat komunikasi praktis bagi anak-anak dengan hambatan komunikasi di Indonesia. Signalong Indonesia hadir sebagai sistem komunikasi terstruktur yang menggabungkan ucapan dengan isyarat kata kunci (key word signing).
"Sistem ini dirancang agar mudah dipelajari, praktis, dan dapat digunakan baik oleh guru maupun teman sebaya, sehingga meminimalisir marginalisasi terhadap siswa dengan disabilitas komunikasi," ujar Budiyanto menceritakan isi pemaparannya dalam forum tersebut.
Salah satu poin krusial yang ditekankan dosen Unesa di hadapan delegasi berbagai negara itu ialah konsep kesenangan (fun) dalam proses belajar-mengajar. Pembelajaran yang menyenangkan dan memicu motivasi diri jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran satu arah yang membosankan.
Khofidotur Rofiah, memaparkan penggunaan Sign-Supported Big Books (Buku Cerita Besar dengan dukungan isyarat) sebagai strategi di kelas. "Melalui Big Books, siswa dapat melihat, mendengar, dan melakukan isyarat kata secara bersamaan, yang terbukti meningkatkan pemahaman cerita dan penguasaan kosa kata secara signifikan," jelasnya mengutip temuan riset di taman kanak-kanak inklusif di Indonesia.
Lebih jauh lagi, tim Unesa menunjukkan fleksibilitas Signalong Indonesia yang kini telah diintegrasikan ke dalam kurikulum Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Melalui buku cerita besar mengenai gempa bumi, banjir, hingga tsunami. Anak-anak berkebutuhan khusus diajarkan instruksi keselamatan dan tanda peringatan dengan cara yang tenang dan terstruktur.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam pendidikan kebencanaan, terutama bagi mereka yang memiliki hambatan bicara dan bahasa. "Di negara rawan bencana seperti Indonesia, pemahaman tentang instruksi keselamatan adalah hal yang vital bagi setiap anak," tambahnya.
Kehadiran dosen-dosen Unesa di forum East Asian Regional Conference ini tidak hanya menegaskan posisi Unesa sebagai pelopor inovasi disabilitas di kancah global, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional lebih lanjut dalam pengembangan teknologi komunikasi yang ramah dan mudah diakses. (Tim Humas Unesa)
Share It On: