
Jangan biarkan masa kuliah berlalu tanpa jejak. Waktu terus berjalan, dan dunia di luar tidak menunggu kita siap. Tekuni bidangmu, ciptakan karyamu, dan tuntaskan skripsimu tanpa menunda. Lulus cepat bukan soal terburu-buru, tapi tentang kesiapan melangkah ke panggung yang lebih besar!
Unesa.ac.id. SURABAYA— Kristal boraks dan teknik jahit tangan faggoting stitch menjadi bagian dari eksperimen Ike Ayu Masithosari dalam menciptakan busana avant-garde. Terinspirasi dari arsitektur Rosslyn Chapel di Skotlandia, mahasiswa Tata Busana, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengolah kristal yang terbentuk secara alami di permukaan kain dan teknik jahit tangan tradisional menjadi struktur busana kontemporer.
Karya tersebut merupakan bagian dari tugas akhir Ike berjudul Penerapan Elemen Arsitektur Rosslyn Chapel dalam Busana Avant-Garde melalui Teknik Faggoting Stitch dan Borax Crystallization. Busana berwarna perak hasil eksperimen tersebut kemudian ditampilkan dalam 4th Annual Show Xynthesis 2025 dan meraih penghargaan Best Design.
Bagi Ike, proses menciptakan busana tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, tetapi juga menguji ketelitian dan keterampilan tangan. Pemanfaatan kristal boraks yang terbentuk secara alami di permukaan kain dipadukan dengan teknik faggoting stitch untuk membentuk struktur busana kontemporer.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi dalam busana avant-garde tidak selalu bergantung pada teknik mesin. Eksperimen material dan ketelitian dalam pengerjaan tangan dapat menjadi bagian dari proses penciptaan karya fashion yang memiliki karakter.
Menariknya, dunia fashion bukan cita-cita awal Ike. Semasa SMA, ia justru ingin melanjutkan pendidikan ke jurusan Seni Rupa atau Desain Komunikasi Visual (DKV). Pilihannya berubah setelah melihat dokumentasi karya mahasiswa Tata Busana melalui kanal YouTube program studi.
“Saya berpikir mungkin suatu hari nanti bisa membuat produk fashion seperti itu karena saya juga suka menggambar. Ternyata setelah kuliah, Tata Busana tidak sesederhana yang saya bayangkan,” ujarnya.
Keputusan tersebut membawa Ike memasuki bidang yang sebelumnya belum dikuasainya. Lulusan SMA jurusan IPS itu tidak memiliki pengalaman menjahit maupun pengetahuan dasar mengenai pola busana dan teknik konstruksi pakaian.
Pada semester pertama, ia kesulitan menghadapi tugas menjahit bahkan sempat membuatnya mempertanyakan pilihannya. “Saya sempat berpikir salah jurusan,” tuturnya.
Alih-alih berhenti pada kesulitan awal, Ike mulai memperluas pengalaman melalui berbagai program pengembangan kompetensi. Ia mengikuti Wirausaha Merdeka (WMK) di Politeknik Negeri Jember yang membekalinya dengan kemampuan membangun bisnis, manajemen sumber daya manusia, pemecahan masalah, hingga proses sertifikasi usaha.
Ia juga mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), magang di Liberty Ecoprint, serta terlibat dalam proses produksi busana untuk brand Saga Carita yang mengusung konsep sustainable fashion.
Pengalaman di luar ruang kelas tersebut mempertemukannya dengan proses produksi dan dinamika industri fashion. Ike juga pernah menjadi dresser pada Grand Opening D'Fashion Surabaya yang melibatkan desainer Eko Purwanto dan Lilik Noer, membantu produksi busana untuk berbagai fashion show dosen, serta mengikuti sejumlah pameran karya.
Proses akademiknya kemudian semakin berkembang melalui tugas akhir. Karena objek riset berada di Skotlandia, Ike melakukan pengumpulan data secara daring melalui jurnal ilmiah, situs resmi, dan berbagai ulasan pengunjung. Sementara itu, penyempurnaan produk dilakukan melalui sejumlah revisi bersama dosen pembimbing dan praktisi saat sesi fitting.
Rangkaian pengalaman tersebut turut melengkapi capaian Ike selama menempuh pendidikan Sarjana Terapan Tata Busana. Selain penghargaan Best Design pada 4th Annual Show Xynthesis 2025, ia mengantongi dua sertifikat kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di bidang Kewirausahaan dan Asisten Desainer.
Ike juga memperoleh dua sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas karya motif batik digital yang dikembangkannya. Berbagai capaian tersebut mengantarkan Ike Ayu Masithosari menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3,97 pada wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu.
Perjalanannya menunjukkan bahwa kemampuan yang dibawa seseorang ketika memasuki perguruan tinggi bukan selalu menjadi batas akhir pencapaiannya. Dari mahasiswa yang memulai kuliah tanpa pengalaman menjahit, Ike berkembang melalui proses belajar, eksperimen, pengalaman profesional, dan keberanian menguji gagasan menjadi karya. ][
***
Reporter: Ja’far
Editor: @zam*
Dok: Ike Ayu Masithosari






