
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Adu gagasan dalam bahasa Inggris melalui metode Leaderless Group Discussion(LGD) hingga tawaran solusi terhadap isu eksploitasi seksual anak di dunia daring (Online Child Sexual Exploitation and Abuse) mewarnai Grand Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 di Auditorium Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), pada Rabu, 1 April 2026.
Ajang pembuktian bagi 15 finalis terbaik dari berbagai fakultas tersebut merupakan tahapan penting bagi peserta untuk mendapatkan tiket mewakili lembaga di tingkat regional dan nasional.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi menuturkan bahwa para finalis adalah aset elit dari sekitar puluhan ribu mahasiswa. Status Unesa sebagai PTN-BH menuntut standar tinggi bagi para delegasi yang akan membawa nama universitas ke level nasional.

www.unesa.ac.id
"Mahasiswa harus tampil dengan kepercayaan diri penuh. Sebagai duta 'Rumah Para Juara', kebanggaan itu harus muncul saat berlaga di tingkat wilayah maupun nasional nanti," tegas Guru Besar Teknologi Pembelajaran Seni Budaya itu.
Tahun ini, Pilmapres Unesa melakukan lompatan signifikan dari aspek penjaringan. Ketua pelaksana, Noor Rohmah Mayasari menjelaskan bahwa penggunaan metode LGD berbahasa Inggris bertujuan menguji ketangkasan komunikasi internasional peserta.
"Kita ingin mahasiswa tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga piawai menyampaikan gagasan kritis dalam bahasa global dalam hal ini bahasa Inggris. Ini standar baru yang kita terapkan," ujar dosen Unesa tersebut.

www.unesa.ac.id
Tak hanya soal kompetensi global, kampus ‘Rumah Para Juara’ juga mempertegas keberpihakannya pada kesetaraan dengan menghadirkan kategori khusus bagi mahasiswa disabilitas. Melalui seleksi dari Pusat Unggulan Inovasi (PUI) Disabilitas, Unesa memastikan bahwa prestasi tidak mengenal batasan fisik.
Ketajaman intelektual para finalis tampak dalam setiap sesi. Salah satu peserta, Khalisha Dzatir Rajwa Hamdani dari Fakultas Psikologi membedah bahaya sexting dan aktivitas daring yang mengancam generasi muda, sembari menawarkan skema perlindungan anak di dunia digital yang lebih komprehensif.
Ajang ini bukan sekadar seremoni, melainkan proses kurasi ketat untuk menjaring bibit unggul yang akan mewakili Unesa di tingkat LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur hingga panggung nasional. ][
***
Reporter: Azam Mudzaky (Internship), dan Dinda Aulia (Internship)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: