Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Teknologi Ubah Ekosistem Sastra, dari Cara Berkarya hingga Peran Pembaca

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA— Teknologi digital tidak hanya mengubah cara karya sastra Indonesia dibaca dan dipublikasikan, tetapi juga memengaruhi proses penciptaan, bentuk karya, pola distribusi, hingga posisi pembaca. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sastra digital berkembang sebagai ekosistem baru yang terus bertransformasi mengikuti teknologi.

Fenomena tersebut menjadi bahasan Mohammad Rokib, dosen Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam Knowledge Sharing Session bertajuk “Internet Literature in Indonesia” yang diselenggarakan Language Academy, Faculty of Social Sciences and Humanities, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), pada Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Webex tersebut dihadiri jajaran dosen Language Academy, Faculty of Social Sciences and Humanities, UTM, dan sejumlah peserta.

Dalam pemaparannya, Rokib menjelaskan bahwa perkembangan cybersastra atau sastra digital di Indonesia tidak sekadar menunjukkan perpindahan karya dari media cetak ke media digital. Teknologi telah mengubah ekosistem sastra secara lebih luas.

Perubahan tersebut, dapat dilihat melalui empat aspek utama, yaitu creation, form, circulation, dan readers. Pada aspek penciptaan, teknologi bahkan mulai terlibat dalam proses produksi karya. Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membuka kemungkinan terjadinya kolaborasi antara manusia dan teknologi dalam menghasilkan konten sastra.

Salah satu fenomena yang dibahas adalah Folklore AI, yakni produksi legenda, cerita rakyat, mitos, dan berbagai bentuk cerita tradisional dengan bantuan AI. Rokib mencontohkan munculnya konten cerita rakyat yang diproduksi menggunakan teknologi tersebut di media sosial.

Perubahan juga terjadi pada bentuk karya. Sastra digital tidak selalu hadir sebagai teks tertulis, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman multimodal yang menggabungkan teks, gambar, suara, animasi, dan unsur interaktif lainnya.

Menurutnya, karakter tersebut sebenarnya telah terlihat sejak perkembangan awal sastra internet di Indonesia. Penelitiannya menunjukkan bahwa karya sastra internet pada periode 2000–2005 tidak hanya berupa teks, tetapi juga mencakup gambar, animasi, dan unsur interaktif. Karakter tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara karya digital dan karya yang hadir dalam format cetak.

Pola sirkulasi karya juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya penerbit dan editor memiliki posisi penting dalam menentukan karya yang beredar, perkembangan platform digital membuat penulis dapat mempublikasikan karya secara langsung dan menjangkau pembaca tanpa selalu melalui mekanisme penerbitan konvensional. Platform dan algoritma kemudian turut memengaruhi bagaimana karya ditemukan dan beredar.

Di sisi pembaca, teknologi juga mengubah pola hubungan dengan karya. Pembaca tidak lagi hanya menjadi penerima, tetapi dapat berinteraksi melalui komentar, berbagi, dan berbagai fitur digital lainnya yang turut memengaruhi penerimaan dan penyebaran karya.

Perwakilan UTM, Faraha Binti Hamidi mengatakan pembahasan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sastra digital tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan medium. Perkembangan teknologi turut mengubah cara karya diciptakan, bentuk karya, pola distribusi, dan peran pembaca.

“Pertemuan ini semoga berlanjut dalam jejaring akademik dan penelitian mengenai bahasa, sastra, serta perkembangan sastra digital baik di Indonesia maupun di Malaysia,” ujarnya.][

***

Reporter: Azhar (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa