Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Tak Harus Mahal, Guru Besar Unesa Beberkan Cara Pemenuhan Kebutuhan Gizi Keluarga melalui Optimalisasi Bahan Pangan Lokal

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Kecukupan gizi keluarga tidak selalu identik dengan bahan pangan mahal. Guru Besar Pengembangan Produk Pangan Fungsional, Fakultas Tekahanan Pangan (FKP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Rita Ismawati, S.Pd. M.Kes menegaskan bahwa kunci ‘kedaulatan gizi’ terletak pada optimalisasi pangan lokal yang ada di sekitar.

Pangan lokal yang mudah didapat misalnya seperti tempe dan tahu, atau yang mudah didapat sekaligus ditanam sendiri di lahan sempit misalnya seperti kelor atau moringa, katuk, kangkung, bayam, dan lain-lain.

Menurutnya, banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa bahan pangan sederhana seperti tempe memiliki kandungan gizi yang tidak kalah bersaing dengan susu maupun daging. Begitu pula dengan daun kelor yang sering dianggap tanaman pagar, ternyata memiliki kandungan zat gizi yang tinggi.

Melihat potensi besar tersebut, ia mendorong gerakan pemanfaatan lahan sempit di lingkungan rumah melalui sistem tanam dalam pot. Lahan terbatas bukan lagi alasan bagi keluarga untuk tidak memiliki akses terhadap pangan bergizi.

"Kita bisa menanam pohon kelor atau daun katuk atau kangkung sendiri di pot. Ini adalah sumber pangan fungsional yang sangat murah dan mudah didapat. Sosialisasi melalui penggerak PKK dan Posyandu menjadi krusial agar pola pemanfaatan pangan mandiri ini menjadi gaya hidup di tingkat akar rumput," ujarnya.

Sebagai pakar pangan fungsional, ia tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menciptakan produk nyata berbasis potensi lokal tersebut. Melalui risetnya yang panjang, ia telah mengembangkan produk seperti Moringa Crackers (biskuit daun kelor) dan Moringa Yogurt sebagai produk intervensi untuk mengatasi masalah balita kurang gizi dan stunting.

Inovasi produk ini telah mengantongi izin edar dan paten resmi, membuktikan bahwa tanaman lokal yang sering diabaikan dapat diolah menjadi produk kesehatan berkualitas tinggi dengan standar ilmiah. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pemenuhan gizi balita bisa dilakukan melalui pendekatan yang lebih akrab dengan sumber daya lokal.

Dalam upaya membangun kesehatan keluarga, ia mengingatkan pentingnya pedoman pola makan yang Beragam, Bergizi, Berimbang, Aman, dan Sehat. Ia menekankan bahwa tidak ada satu jenis bahan makanan pun yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan zat gizi.

"Harus ada keseimbangan antara asupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kesadaran ini yang terus kita tanamkan ke masyarakat," tambahnya.

Ke depan, setelah sukses mengeksplorasi manfaat daun kelor untuk balita, ia dan tim berkomitmen untuk memperluas jangkauan risetnya dengan mengembangkan produk berbasis daun katuk yang difokuskan khusus bagi kesehatan ibu hamil. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga Indonesia dari hulu ke hilir.][

***

Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)

Editor: @zam*

Ilustrasi: azerbaijan_stockers/ freepik.com

 

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):