
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA—Prodi S-1 Film dan Animasi, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melaksanakan kegiatan International Guest Lecture and Sanctioning pada Jumat, 5 November 2025, di Auditorium T14, FBS Unesa, Kampus II Lidah Wetan.
Acara ini dihadiri narasumber bidang perfilman, Alixir Turnbull-Crane dan Lynne Hardwood. Mereka menjelaskan mengenai kolaborasi antara sutradara dan editor yang memegang peranan krusial dalam menghasilkan karya yang memukau, mereka juga berbagi cara membangun visi yang sama dan menciptakan sinergi yang kuat sutradara dan editor.
Dekan FBS, Syafi'ul Anam mengapresiasi kegiatan yang melibatkan narasumber dari praktisi filme luar negeri tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sebuah terobosan penting dalam memperkaya pemahaman dan pengalaman bidang perfilm-an, khususnya terkait peran sutradara dan editor di balik film yang dihasilkan.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa prodi Film dan Animasi Unesa. “Ini kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman dengan berdiskusi dan bertanya langsung dengan narasumber,” ucapnya.

www.unesa.ac.id
Korprodi Film dan Animasi, Tri Cahyo Kusumandyoko mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Acara ini merupakan kegiatan perdana yang kami laksanakan,” ungkapnya.
Ia berharap dengan menghadirkan narasumber internasional dapat memberikan wawasan nyata kepada mahasiswa, khususnya terkait kolaborasi antara sutradara dengan editor dalam menghasilkan karya film yang memukau.
Pada sesi materi, Lynne Hardword menekankan pentingnya diskusi terbuka dan eksplorasi ide-ide baru. Menurutnya, meskipun sutradara memiliki visi yang jelas, film adalah produk kolaborasi. "You can't just go in and say, I want to do it this way. It's not good. Because it's, you know, it's a collaboration, but making this beautiful piece together. You just have to keep talking to people, keep trying to understand them," ujarnya.
Alixir juga menambahkan bahwa ia selalu diberi kesempatan untuk membuat first pass dalam menyusun adegan. Hal ini memungkinkan editor untuk memberikan sentuhan segar dan perspektif baru pada materi yang telah diambil.
“So, I've got all the scenes separate. And I'd always give my editor a first pass at creating the scene. Because although I'll have it in my head exactly how I worked it out, I like to see what someone else brings to it” ujarnya.
Proses ini kemudian diikuti dengan diskusi dan notes dari sutradara, sehingga tercipta dialog yang konstruktif dan saling memperkaya.

www.unesa.ac.id
Salah satu poin penting yang diangkat Lynne adalah bahwa seorang sutradara tidak hanya menyutradarai apa yang tertulis di halaman naskah. Lebih dari itu, sutradara harus menggali subteks dan makna tersembunyi dalam film untuk mengarahkan aktor dan menciptakan visual yang sesuai. Proses ini melibatkan storyboard dan eksplorasi gaya visual yang unik dari sutradara.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya mengenal karakter dalam naskah secara mendalam. Ia mengajak aktor untuk berimprovisasi dan berdiskusi sebagai karakter, sehingga mereka dapat sepenuhnya menghayati peran yang dimainkan.
Hal ini dapat membantu aktor untuk tetap berada dalam momen emosional yang tepat, meskipun adegan yang diambil tidak berurutan.
Dengan menggabungkan wawasan dari sutradara dan editor, kita dapat memahami bahwa kunci dari kolaborasi yang sukses dalam pembuatan film adalah komunikasi yang terbuka, eksplorasi ide-ide baru, dan pemahaman yang mendalam tentang naskah dan karakter. Dengan begitu, visi bersama dapat terwujud dan menghasilkan karya yang luar biasa. ][
***
Reporter: Erlina Dwi Hidayanti (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: