
Unesa.ac.id. SURABAYA— Pengelolaan sampah, penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan, efisiensi energi, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari pembenahan dan penguatan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam membangun kampus berkelanjutan. Berbagai upaya tersebut turut mengantarkan Unesa menduduki peringkat 15 PTNBH dalam UI GreenMetric World University Rankings (UIGM) 2026.
Dalam pengumuman UIGM 2026 yang berlangsung di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), 15 September 2026, Unesa juga menempati peringkat 4 tingkat Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan peringkat 28 secara nasional.
Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah (IPPI) Unesa, Nadi Suprapto, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil pembenahan yang dilakukan secara bertahap. Unesa telah mengikuti UIGM selama sekitar satu dekade dan terus memperkuat berbagai aspek keberlanjutan di lingkungan kampus.
Pada UIGM 2026, terdapat tujuh indikator yang dinilai, yakni setting and infrastructure, energy and climate change, waste, water, transportation, education for sustainability, serta governance and digitalization. Indikator governance and digitalization merupakan tambahan pada pemeringkatan tahun ini.
“Di tahun 2026 ada tambahan satu indikator, yaitu governance and digitalization. Jadi, lebih ke tata kelola penggunaan teknologi digital dalam kesadaran berlingkungan,” jelas guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu.
Dari berbagai aspek tersebut, pengelolaan sampah dan transportasi menjadi dua bidang yang menunjukkan perkembangan cukup menonjol di Unesa dalam beberapa tahun terakhir. Melalui Direktorat Smart Sustainability Campus (USSC), berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi dan mengolah sampah yang dihasilkan dari aktivitas kampus.
Pada aspek transportasi, Unesa mengembangkan fasilitas dan sarana pendukung mobilitas yang lebih ramah lingkungan. Di antaranya melalui parkir bertingkat dan pemanfaatan sepeda listrik yang turut mendukung aspek transportasi dalam UIGM.
Praktik keberlanjutan juga dibangun melalui kebiasaan sivitas akademika. Penggunaan tumbler untuk mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai serta pemilahan sampah di sejumlah program studi menjadi bagian dari praktik tersebut.
Pada aspek energy and climate change, Unesa mulai menerapkan teknologi untuk mendukung efisiensi energi. Salah satunya melalui penggunaan sensor pada ruangan tertentu yang memungkinkan perangkat seperti lampu dan fasilitas lainnya bekerja sesuai kebutuhan.
Baginya, keberlanjutan kampus tidak hanya menjadi tanggung jawab satu unit kerja, tetapi keterlibatan seluruh civitas. Karena itu, berbagai kebiasaan ramah lingkungan perlu terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Pemeringkatan menjadi salah satu sarana untuk mengevaluasi praktik yang telah berjalan sekaligus melihat aspek yang masih perlu diperkuat.
“Ranking itu hanya salah satu tolok ukur untuk evaluasi diri. Lebih dari itu, tujuh indikator tersebut yang terpenting adalah bagaimana kami terus mengoptimalkannya,” tuturnya.
Pada UIGM 2026, Unesa berada di antara lebih dari 2.100 perguruan tinggi peserta dari berbagai latar belakang, baik perguruan tinggi negeri, swasta, maupun perguruan tinggi keagamaan. Unesa menargetkan agar praktik keberlanjutan tidak berhenti pada pemenuhan indikator pemeringkatan, tetapi menjadi bagian dari budaya kampus. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






