Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Semangat Maba Disabilitas Jalani PKKMB, Unesa Siapkan Pendampingan Mulai di ‘Gerbang Kampus’

bnr-arrow-1-1.png
Semangat Maba Disabilitas Jalani PKKMB, Unesa Siapkan Pendampingan Mulai di ‘Gerbang Kampus’

Unesa.ac.id. SURABAYA— Memulai kehidupan sebagai mahasiswa tentu menjadi pengalaman baru bagi siapa pun. Bagi mahasiswa penyandang disabilitas, proses tersebut juga membutuhkan dukungan agar mereka dapat mengenal lingkungan kampus, mengikuti kegiatan, sekaligus membangun kepercayaan diri untuk tumbuh bersama mahasiswa lainnya. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026.

Sejumlah mahasiswa baru penyandang disabilitas mengikuti rangkaian PKKMB di lingkungan Unesa pada Rabu (19/8/2026), dengan dukungan panitia, relawan, dan pendamping mahasiswa. Pendampingan diberikan untuk membantu mobilitas maupun memastikan mahasiswa memperoleh informasi dan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar tanpa hambatan.

Salah satunya Satria Dewa Mahardhika, mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa asal Sidoarjo. Ketertarikannya terhadap bahasa Jepang semakin kuat setelah mendapat dorongan dari gurunya saat SMA yang merupakan alumni Unesa.

Tim dan Program Pendampingan

Satria pun menempuh perjalanan sekitar 40 Km setiap hari untuk mengikuti kegiatan di kampus dengan diantar ayahnya menggunakan sepeda motor. Setibanya di kampus, ia mendapat pendampingan dari Muhammad Izzudin Alqosam atau Udin, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa angkatan 2024 yang tergabung dalam tim khusus Pusat Unggulan Iptek (PUI) Unesa.

“Waktu pertama kali datang itu jujur shock karena tidak se-diperhatikan ini. Dari saya datang ke FBS sampai kelas ini dijagain sama Mas Udin. Selain itu, excited juga melihat kakak-kakak panitia yang semangat,” ujar Satria.

Pendampingan tersebut membuatnya lebih nyaman mengikuti PKKMB sekaligus mengenal lingkungan kampus. Meski demikian, Satria berharap aksesibilitas di lingkungan fakultas terus diperkuat sehingga mahasiswa disabilitas semakin mudah menjalani aktivitas perkuliahan secara mandiri.

Selain membantu akses menuju lokasi, pendamping juga memastikan informasi mengenai tugas maupun kebutuhan kegiatan dapat diterima mahasiswa. “Kalau offline biasanya saya sudah standby di gerbang fakultas dari jam 5. Untuk yang online saya mengingatkan tugas-tugas dan atribut,” ungkapnya.

Berbaur dan Bertumbuh Bersama

Semangat untuk berbaur dan belajar juga ditunjukkan Giseila Aperio Venrie, mahasiswa Program Studi S-1 Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) asal Jember. Mahasiswa dengan disabilitas tak tampak tersebut memilih Unesa karena dukungan orang tua yang merupakan alumni Unesa serta ketertarikannya terhadap bidang seni.

Ia mengaku dapat mengikuti PKKMB dengan nyaman karena mendapatkan pelayanan dan pendampingan dari panitia maupun mahasiswa pendamping. “Pelayanan panitianya ramah banget. Aku juga dapat kakak pendamping yang ramah,” katanya.

Di Kampus Ketintang, pengalaman serupa dirasakan Mohammad Fajar Yusuf, Veranica Imanuela Kalemeha, dan Fitrah Dwi Alfiansyah. Ketiganya merupakan mahasiswa baru penyandang disabilitas yang mengikuti rangkaian PKKMB bersama mahasiswa lainnya dengan dukungan pendamping.

Bagi Veranica, perjalanan menuju Unesa juga menjadi bagian dari proses yang tidak mudah. Setelah belum berhasil melalui jalur SNBP dan UTBK, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi tersebut akhirnya diterima melalui jalur tes disabilitas mandiri Unesa.

“Dari awal pilihan saya sebenarnya Unesa. Setelah SNBP dan UTBK belum berhasil, akhirnya mencoba tes disabilitas mandiri dan diterima di Ilmu Komunikasi,” ujarnya.

Kelancaran mahasiswa disabilitas mengikuti PKKMB turut didukung anggota UKM Peduli Disabilitas Unesa dan relawan mahasiswa. Rifa, Ais, dan Bilqis dari Program Studi Pendidikan Khusus turut mendampingi mahasiswa selama kegiatan.

Menurut Rifa, mahasiswa disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pengalaman PKKMB. Sementara Bilqis melihat kemandirian mahasiswa disabilitas yang tetap ingin berbaur sebagai bagian penting dalam proses adaptasi mereka di lingkungan kampus.

Di sisi lain, proses pendampingan juga menemukan sejumlah kebutuhan yang masih perlu diperkuat, terutama terkait aksesibilitas fasilitas. Ais menyoroti beberapa fasilitas yang perlu diperkuat ke depan seperti guiding block, lift, dan ramp di sejumlah lokasi. ][

***

Reporter: Aldian Lukmanul Hakim (Fisipol), dan Dava Yessy Marshela (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa