
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Sebuah tradisi yang telah terjaga selama lebih dari sepuluh tahun kembali menghidupkan panggung pertunjukan kampus. Gelar Pentas Perdana (Pena) KKM Teater Sendratasik 2025 bertajuk Menunggu Kekasih sukses diselenggarakan di Graha Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Rabu, 11 Februari 2026.
Pemilihan tema romantis ini sengaja diusung untuk menyambut momentum bulan Februari. Antusiasme penonton terasa luar biasa; ratusan orang telah memadati area gedung bahkan sebelum pintu auditorium dibuka. Tak hanya mahasiswa, berbagai komunitas seni seperti Teater Institut, Teater Gresik, hingga Teater Kalimantan turut hadir mengapresiasi karya tahunan ini.
Pertunjukan dibuka dengan nuansa yang akrab dan puitis di lobi gedung melalui pembacaan puisi dan dansa cinta. Sambutan hangat diberikan oleh Wakil Dekan I FBS, Anas Ahmadi, yang secara resmi membuka acara. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi mahasiswa dalam menghidupkan kegiatan kreatif di lingkungan kampus.

www.unesa.ac.id
Senada dengan hal tersebut, Pembina KKM Teater Sendratasik, Syaiful Qadar Basri, menjelaskan bahwa Pena merupakan kawah candradimuka bagi para talenta muda. "Pentas Perdana adalah titik awal untuk mengasah kualitas mahasiswa baru sebelum mereka benar-benar menapaki panggung profesional," ungkap Syaiful.
Sebagai simbolisasi dimulainya rangkaian acara, prosesi pemotongan tumpeng dilakukan sebelum penonton disuguhi tarian tradisional yang memukau sebagai pembuka drama utama.
Lakon Menunggu Kekasih mengisahkan perjalanan seorang wanita yang memelihara harapan kuat menanti kedatangan cintanya hingga usia senja. Ketua Pelaksana, Amin Roziq, menuturkan bahwa atmosfer kasih sayang diperkuat dengan dekorasi bunga yang tersebar di sudut-sudut Graha Sawunggaling.
Persiapan intensif selama dua bulan melibatkan sembilan aktor yang didukung oleh sekitar 50 kru lintas angkatan. Di bawah arahan sutradara Herlina Dwi, naskah asli karya Puthut Buchori yang semula hanya melibatkan tiga tokoh diadaptasi menjadi sembilan karakter. Transformasi ini bertujuan agar setiap pemain memiliki porsi peran yang kuat dan seimbang.

www.unesa.ac.id
Meski bertema penantian, Herlina menyelipkan pesan kritis bagi para penontonnya. "Jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kalau cinta itu tidak jelas, lebih baik move on," tegasnya.
Pengalaman mendalam dirasakan oleh salah satu aktor, Titin Agustini. Ia mengaku harus melakukan transisi besar dari kepribadian aslinya ke karakter yang jauh lebih ekspresif.
"Saya harus menjadi sosok yang jauh lebih heboh dari diri saya sendiri. Transisi dari kehidupan nyata ke karakter itu menjadi tantangan yang paling berkesan selama proses produksi dua bulan ini," cerita Titin.
Apresiasi juga datang dari penonton yang merupakan alumni Sendratasik angkatan 2012, Soul Esto. Ia memuji kemasan penyutradaraan dan artistik pertunjukan yang dinilai sudah matang.
Menurutnya, detail kecil seperti body language pemeran pengantar surat dengan sepedanya menjadi salah satu daya tarik yang kuat meski memiliki dialog yang minim.
Pentas Perdana 2026 ini bukan sekadar tugas akhir bagi mahasiswa baru, melainkan bukti keberlanjutan regenerasi seniman di Unesa yang terus mampu menyatukan emosi penonton melalui seni peran.][
***
Reporter: Dava Yessy Marshela (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: