
Unesa.ac.id. SURABAYA—Riuh tepuk tangan dan raut bahagia wisudawan mendadak luruh menjadi keheningan yang menyayat hati. Di tengah deretan toga dan senyum bangga para lulusan pada gelaran wisuda ke-120 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Graha Unesa pada Kamis, 25 Juni 2026, seorang ibu berjalan perlahan menuju podium utama.
Kartiwi, seorang ibu asal Kandangan, Kediri itu hadir di atas panggung megah bukan untuk merayakan kelulusan diri sendiri, melainkan untuk mewakili putri tercinta, Linda Ayu Tivani yang telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta tepat sebelum sempat mengenakan jubah toga yang selama ini diimpikannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca menahan bendungan air mata, Kartiwi menerima lembar ijazah dan bukti kelulusan sang putri. Lembaran kertas itu menjadi saksi bisu dari perjuangan panjang Linda yang berhasil menuntaskan seluruh kewajiban akademiknya, bahkan di saat tubuhnya harus bertaruh nyawa melawan penyakit berat dalam beberapa bulan terakhir kehidupannya.
Suasana khidmat itu seketika berubah menjadi haru biru saat Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., atau yang akrab disapa Cak Hasan, juga turut menyampaikan rasa kehilangan. Mewakili seluruh keluarga besar Unesa, Cak Hasan menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Linda, yang selamanya akan tetap dicatat sebagai bagian dari keluarga besar ‘Rumah Para Juara.’
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya salah satu mahasiswi terbaik kita. Hari ini keluarganya hadir mewakili untuk menerima bukti kelulusan yang menjadi hasil perjuangan almarhumah selama menempuh pendidikan di Unesa," ujar Cak Hasan dengan nada suara yang bergetar dan mata yang berkaca.
Namun, Unesa tidak membiarkan duka itu berjalan sendirian tanpa harapan. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap dedikasi belajar almarhumah, sekaligus bentuk kepedulian lembaga, Cak Hasan memberikan kejutan yang dapat meringankan beban keluarga.
Unesa secara resmi memberikan jaminan beasiswa penuh kepada adik kandung Linda, Carolina Anjelin Valeta (16), yang saat ini masih duduk di bangku kelas XI SMA.
"Nanti adiknya akan kami beri beasiswa untuk melanjutkan studi di Unesa setelah lulus sekolah. Kami berharap ia bisa meneruskan cita-cita dan semangat kakaknya dalam menempuh pendidikan," tutur Guru Besar FIKK Unesa tersebut.
Mendengar keputusan itu, Kartiwi menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Baginya dan keluarga di desa, pendidikan tinggi adalah barang mewah yang harus ditebus dengan keringat setiap harinya. Kehadiran beasiswa untuk anak bungsunya bagaikan oase di tengah gurun duka keluarganya.
"Terima kasih. Beasiswa untuk anak saya ini menjadi simbol kepedulian sekaligus semangat untuk melanjutkan semangat almarhumah melalui adiknya. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucapnya sembari mengusap air mata.
Di sudut ruangan, Kartiwi sempat mengenang kembali hari-hari terakhir bersama putri sulungnya tersebut. Segalanya berjalan begitu cepat. Awalnya, Linda hanya mengeluhkan batuk berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh. Namun, takdir berkata lain saat hasil pemeriksaan medis di rumah sakit menunjukkan kenyataan yang jauh lebih pahit.
"Setelah rontgen, paru-parunya sudah memutih sebelah. Dokter bilang ada cairan yang harus diambil. Sore hari setelah ambil hasil rontgen, langsung opname," kenang Kartiwi menutup cerita penuh ketegaran tersebut.
Ijazah Linda kini telah berada di tangan sang ibu. Meski raganya telah tiada, semangat dan mimpi besarnya untuk mengubah nasib keluarga kini resmi diestafetkan kepada sang adik, tumbuh kembali menjadi harapan baru di bawah naungan kampus Unesa.][
***
Reporter: Medina Azzahrah (FBS), dan Dinda Auliya (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






