Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Residu Tubuh Suminten, Cerita Rakyat yang Antar Tim Tari Unesa Naik Podium Peksiminas

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA— Luka batin Suminten, tokoh dalam cerita rakyat yang dikenal melalui pertunjukan ketoprak, dihidupkan kembali lewat gerak kreatif para penari mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Dalam karya bertajuk Residu Tubuh Suminten, kisah seseorang yang mengalami luka setelah ditinggalkan dalam hubungan asmara itu diterjemahkan menjadi koreografi tentang perubahan emosi, trauma, dan perjalanan menghadapi pengalaman pahit.

Karya dan kreativitas menampilkan cerita melalui seni pertunjukan tersebut mengantarkan tim tari Unesa menduduki podium ketiga tangkai lomba tari pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII 2026 yang berlangsung di Universitas Jember (Unej), 7–12 September 2026.

Sebelum tampil di panggung nasional, perjalanan tim dimulai melalui seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur. Persiapan dilakukan secara intensif dengan latihan setiap hari. Dalam sehari, para penari menghabiskan waktu sekitar enam jam untuk memperkuat teknik, membangun kekompakan, sekaligus memahami karakter karya yang akan dibawakan.

“Latihannya setiap hari. Biasanya dari pagi sampai sore dengan jeda istirahat sebentar. Karena tarian ini cukup atraktif dan membutuhkan kekuatan fisik, kami juga banyak melakukan latihan tubuh,” ujar Keysha Brilliant Asmara Rafika Nikmatul Halimah, salah satu anggota tim.

Latihan tidak hanya berfokus pada gerak. Koreografi Residu Tubuh Suminten menghadirkan sejumlah gerakan akrobatik yang membutuhkan kelenturan dan kekuatan tubuh. Karena itu, persiapan fisik dilakukan secara bertahap agar para penari mampu menjalankan koreografi sekaligus menjaga kekompakan selama pertunjukan.

Tantangan berikutnya muncul ketika tim melaju ke Peksiminas XVIII. Pada Peksimida Jawa Timur, mereka terbiasa tampil dengan dukungan musik langsung dari pemusik. Interaksi antara penari dan pemusik menjadi bagian penting karena sejumlah gerakan memiliki respons terhadap irama yang dimainkan secara langsung.

Di tingkat nasional, aturan kompetisi mengharuskan seluruh peserta menggunakan musik rekaman. Perubahan tersebut membuat tim harus menyesuaikan kembali pola latihan. Gerakan yang sebelumnya mengikuti tanda dari pemusik harus diubah agar seluruh penari dapat bergerak berdasarkan hitungan dan selaras dengan musik rekaman.

“Kami harus latihan ulang berkali-kali. Kalau biasanya ada tanda dari pemusik, sekarang semuanya harus benar-benar mengandalkan hitungan dan kekompakan antar penari,” jelasnya.

Penyesuaian itu menjadi bagian dari proses mereka membawa Residu Tubuh Suminten ke panggung nasional. Para penari tidak hanya dituntut menjaga ketepatan teknik dan kekompakan, tetapi juga mempertahankan karakter karya yang mengangkat pengalaman emosional Suminten melalui bahasa tubuh.

Adapun anggota tim tari Sendratasik Unesa yang meraih juara III Peksiminas XVIII 2026 terdiri atas Dinar Nur Andhiny, Keysha Brilliant Asmara Rafika Nikmatul Halimah, Dliya Khansa Luthfiatunnisa, Dea Octavia Dwi Ramadhani, Lintang Lembayung Senja, Dessy Pramisti, Cintya Wirate Ganes Wahyuningtyas, dan Alexsa Putri Jaelani.][

***

Reporter: Puput

Foto: Tim Peksiminas Unesa

Editor: @zam*

 

 

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):