
Unesa.ac.id. SURABAYA—Di tengan tuntutan perubahan dan tantangan pendidikan yang begitu kompleks, kepala sekolah tidak lagi sekadar sebagai administrator, melainkan harus menjadi pemimpin yang transformatif. Kepemimpinan transformasional kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan keberlangsungan mutu pendidikan.
Hal ini ditegaskan Prof. Dr. Erny Roesminingsih, M.Si., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Kepemimpinan Pendidikan Dasar dan Menengah, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Graha Sawunggaling, Kampus II Lidah Wetan, pada 10 Februari 2025 lalu.
Dalam pidato berjudul “Dampak Kepemimpinan Transformasional pada Kinerja Guru: Studi Tentang Professional Learning Community (PLCs) di Indonesia” itu, ia menyoroti bahwa pemimpin transformasional mampu mengambil pendekatan komprehensif dalam mengelola perubahan.
Gaya kepemimpinan ini berdasarkan berbagai studi, terbukti mampu membentuk pandangan guru mengenai kolaborasi, penilaian, hingga optimalisasi waktu dan ruang di sekolah. Melalui visi yang jelas, kepala sekolah dapat membangun kepercayaan dan rasa saling menghormati yang menjadi fondasi utama bagi peningkatan kinerja guru.
“Kepemimpinan transformasional kepala sekolah sangat penting dalam meningkatkan profesionalisme dan kinerja guru. Pemimpin tipe ini tidak hanya mendorong dialog reflektif, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab kolektif yang berfokus pada pengembangan pembelajaran siswa,” ujarnya.
Namun, kepemimpinan yang kuat memerlukan wadah agar dampaknya terasa nyata di ruang kelas. Di sinilah Professional Learning Community (PLC) atau komunitas belajar profesional memegang peran krusial.
PLC berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan visi kepala sekolah dengan praktik pengajaran guru. Di dalam komunitas ini, pendidik dapat berdiskusi secara mendalam tentang praktik pengajaran, berbagi strategi, dan bersama-sama merancang solusi untuk meningkatkan kualitas sekolah.

Menurut dosen kelahiran Madiun itu, PLC menjadi ruang bagi guru untuk menganut nilai dan visi bersama, yang pada akhirnya memperkuat komitmen terhadap mutu institusi. Selain meningkatkan kompetensi profesional, komunitas ini juga berkontribusi pada kesejahteraan mental guru melalui budaya kerja sama yang suportif.
Dalam konteks Indonesia, berdasarkan hasil studi, keberadaan PLC telah terbukti secara signifikan memicu perilaku inovatif guru serta meningkatkan efektivitas pengajaran secara keseluruhan.
Berdasarkan temuan riset tersebut, Erny Roesminingsih memberikan sejumlah rekomendasi strategis agar kepemimpinan transformasional benar-benar berdampak luas bagi atmosfer pembelajaran di sekolah.
- Kepala sekolah harus mempunyai kompetensi kepemimpinan transformasional sekaligus keterampilan manajerial yang mampu membangun iklim kerja yang kondusif;
- Melakukan gerakan pemberdayaan guru sesuai dengan kebutuhannya dengan melihat masing-masing kinerja guru; dan membuat peta karier guru melalui jalur-jalur karier guru sesuai kompetensi dan arah pengembangan sekolah;
- Strategi pengembangan kompetensi guru dapat difasilitasi dengan beberapa program PLC yang dimiliki baik intern maupun ekstern sekolah; juga perlu kerja sama dengan perguruan tinggi ataupun NGO bidang pendidikan dan pembelajaran.
- Pengembangan dan pemberdayaan guru dapat diintegrasikan pada kegiatan supervisi akademik dan manajerial dengan mengintegrasikan program-program PLC; dan Membuat akses produk PLC secara masif dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam melakakukan desiminasi praktik baik;
- Diskusi di dalam PLC yang komprehensif tentang praktik pengajaran, berbagi pengalaman dan strateginya diarahkan pada kompetensi Instructional leadership guru; dan perlu membentuk gugus di dalam PLC serta apresiasi bagi gugus yang mengalami pertumbuhan dengan rubrik yang sudah valid, melibatkan penjaminan mutu internal untuk mengawalnya.
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






