
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA – Tren kesepian atau loneliness kian menjadi perhatian dalam isu kesehatan mental di tengah masyarakat modern. Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Diana Rahmasari, menegaskan bahwa perubahan gaya hidup yang serba cepat dan dominasi penggunaan gadget telah menggeser kualitas relasi sosial menjadi semakin dangkal.
Ia menjelaskan, kesepian tidak selalu identik dengan kondisi sendiri secara fisik. Banyak individu yang hidup bersama keluarga, namun tetap merasa hampa karena tidak adanya meaningful connection.
Interaksi yang terjadi hanya sebatas formalitas, seperti saling menyapa tanpa keterlibatan emosional yang mendalam. Kondisi ini, menurutnya, membuat seseorang merasa tidak disayang, tidak dibutuhkan, dan kehilangan validasi emosional.
Kelompok lansia menjadi salah satu yang paling rentan mengalami kesepian. Keterbatasan dalam mengakses teknologi serta berkurangnya intensitas interaksi dengan keluarga membuat mereka berada dalam posisi yang semakin terisolasi.
Meski sebagian lansia terbantu dengan konten digital untuk mengusir sepi, tidak semua memiliki akses atau kemampuan yang sama terhadap perangkat tersebut.
Namun demikian, fenomena kesepian tidak hanya terjadi pada lansia. Generasi muda, termasuk Gen Z, juga menghadapi risiko serupa. Gaya hidup individualistik, rutinitas yang monoton seperti kuliah–pulang–kos, serta kecenderungan menghabiskan waktu dengan gadget membuat relasi sosial menjadi terbatas.
“Kita ini makhluk sosial, tetap membutuhkan kehadiran orang lain. Tanpa relasi yang bermakna, potensi kesepian akan selalu ada,” ujarnya.
Berdasarkan data yang ia paparkan, sekitar 62 persen masyarakat Indonesia pernah merasakan kesepian. Angka ini menjadi sinyal peringatan serius karena kesepian berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, stres, hingga penurunan kualitas hidup.
Gejala awalnya dapat berupa perasaan tidak berharga, pesimisme, hingga kecenderungan berpikir negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Pakar Psikologi Unesa itu menambahkan, kesepian yang tidak disadari juga dapat memengaruhi cara seseorang dalam mengambil keputusan dan memandang kehidupan.
Individu yang mengalami loneliness cenderung merasa tidak memiliki peran, sehingga muncul sikap menarik diri dari lingkungan sosial. Jika kondisi ini tidak dimitigasi, maka risiko berkembang menjadi depresi semakin besar.
Menariknya, kesepian tidak selalu disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga dapat terbentuk dari kebiasaan individu itu sendiri. Ketergantungan pada gadget, rasa malas untuk bersosialisasi, serta keengganan membangun relasi yang sehat menjadi pemicu utama.
“Kadang kita yang menciptakan kesepian itu sendiri, karena memilih menarik diri dan merasa cukup dengan dunia di dalam gadget,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki modal sosial yang kuat untuk melawan fenomena ini. Budaya gotong royong, empati, dan kebiasaan berinteraksi dalam komunitas seperti kegiatan RT atau lingkungan sekitar menjadi kekuatan yang dapat menjaga keterhubungan sosial masyarakat.
Ia menekankan bahwa kontrol terhadap penggunaan gadget sepenuhnya berada pada individu. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan pengendali kehidupan.
“Kita adalah ‘raja’ bagi diri sendiri, termasuk dalam mengontrol gadget. Bukan sebaliknya,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, ia mendorong masyarakat untuk mulai membangun relasi sosial yang berkualitas, meski dalam lingkup kecil. Memiliki satu atau dua teman dekat yang dapat diajak berbagi dinilai sudah cukup untuk menjaga kesehatan mental.
Selain itu, keterlibatan dalam aktivitas sosial juga dapat membantu individu menemukan makna hidup dan kebahagiaan.
“Ketika mulai merasa kesepian, jangan diam. Cari aktivitas, temui orang lain, dan bangun koneksi. Karena pada akhirnya, kitalah yang bertanggung jawab atas kondisi diri kita sendiri,” pungkasnya. [ ]
Penulis: Puput
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: