
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Tingginya potensi bencana kebumian di Indonesia belum diimbangi dengan literasi dan kemampuan mitigasi masyarakat yang memadai. Hal itulah yang mendorong guru besar inovasi pendidikan vokasi fokus pendidikan geosains Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Eko Hariyono merumuskan pendekatan inovatif dalam pendidikan geosains.
Pakar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu menekankan pentingnya terobosan dalam model pendidikan geosains. Ia menggarisbawahi bahwa geosains tidak hanya mempelajari fenomena alam seperti gempa bumi, letusan gunung api, atau perubahan iklim, tetapi juga berperan krusial dalam membangun kesadaran dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.
“Penekanannya bukan hanya soal memahami bumi, tetapi bagaimana mengubah masyarakat yang rentan menjadi masyarakat yang tangguh. Ini bukan tugas ringan, dan di sinilah inovasi pendidikan geosains berperan strategis,” ucapnya.
Berdasarkan kajian bibliometrik yang disampaikan, dalam satu dekade terakhir, kontribusi Indonesia terhadap penelitian pendidikan geosains masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.
Padahal, secara geologis, Indonesia memiliki latar belakang yang sangat kompleks dan unik dengan risiko kebencanaan yang tinggi. Data BNPB tahun 2024 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami lebih dari 1.200 kejadian bencana, termasuk banjir, longsor, kekeringan, dan erupsi gunungapi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, sejak 2017 ia aktif dalam kolaborasi riset internasional bersama Okayama University Jepang melalui program JSPS Core to Core: Asian Network for Promoting Teacher Education for Sustainable Development.
Salah satu model inovatif yang dikembangkan dalam kerja sama ini adalah Volcano Learning Project(VLP), yaitu model pembelajaran berbasis fenomena gunung api yang dikembangkan menjadi bagian dari kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA) di Indonesia.

Model ini memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya konseptual, tetapi juga kontekstual, dengan mengaitkan pengetahuan geosains dengan kehidupan masyarakat sekitar. VLP mendapat apresiasi positif dari mitra riset internasional dan kini dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu pendekatan unggulan dalam pendidikan kebumian.
Selain itu, ia juga mengembangkan pendekatan Field-Based Approach (FBA) dalam pembelajaran. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak untuk melakukan riset lapangan secara langsung, berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat, serta memahami secara utuh dinamika kebencanaan di wilayah tertentu.
Pendekatan ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan riset dan kepekaan sosial yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Konsep inovasi yang diusung dosen kelahiran Lamongan itu sejalan dengan kerangka Next Generation Science Standards (NGSS), yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pendidikan sains dengan isu-isu nyata seperti keberlanjutan lingkungan, sistem ekologi, dan keseimbangan sumber daya alam.
Dengan berbagai inovasi yang dikembangkan, ia berharap pendidikan geosains di Indonesia mampu menjawab tantangan zaman. “Pendidikan harus menjadi jembatan antara pengetahuan dan ketangguhan. Bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga warga negara yang sadar dan siap menghadapi risiko bencana secara bijak,” tegasnya.[]
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @zam*
Sumber: Disari dari paper ilmiah berjudul ““Inovasi Pendidikan Geosains dalam Mewujudkan Masyarakat yang Berkelanjutan,” yang disampaikan Prof. Dr. Eko Hariyono, S.Pd., M.Pd., dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar inovasi pendidikan vokasi fokus pendidikan geosains Unesa, November 2024 lalu.
Share It On: