
Banyak cara membanggakan orang tua, selain bisa melalui medali prestasi, juga bisa melalui toga wisuda. So, perkuat semangat, angkat kepala, terus berjuang, sampai tuntas!
Unesa.ac.id. SURABAYA— Tidak semua pilihan pendidikan tinggi berawal dari cita-cita yang sudah terencana. Bagi Nely Dias Febrianti, jalan menjadi guru justru tumbuh setelah ia menjalani pilihan yang semula bukan impiannya. Mahasiswi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu kemudian berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan IPK 3,99, pada gelaran wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu.
Nely awalnya lebih tertarik pada bidang yang berkaitan dengan bisnis. Namun, atas dorongan orang tua, ia memilih PGSD. Pilihan tersebut sempat membuatnya terkejut, tetapi proses perkuliahan perlahan mengubah cara pandangnya. Ia mulai menikmati pembelajaran sekaligus menemukan ketertarikan pada dunia pendidikan.
Pengalaman tersebut semakin kuat ketika Nely mengikuti berbagai program pembelajaran di luar kelas melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Pada semester lima, ia mengikuti Magang Mandiri di SDN 3 Jatiprahu, Trenggalek.
Setahun berikutnya, ia melanjutkan pengalaman melalui Program Surabaya Mengajar (PSM) di SDN Simomulyo VIII/497 Surabaya. “Pengalaman tersebut memberi saya kesempatan merasakan langsung dunia pendidikan sekaligus mengasah kompetensi sebagai calon guru,” ujarnya.
Pengalaman Magang dan Adaptasi
Pengalaman magang juga mempertemukannya dengan tantangan yang tidak diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Saat mengikuti Magang Mandiri, Nely menjalani program seorang diri tanpa rekan dari kampus. Situasi tersebut membuatnya belajar beradaptasi dengan lingkungan sekolah, membangun kepercayaan diri, serta berinteraksi langsung dengan guru dan peserta didik.
“Saya benar-benar belajar bahwa menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan. Saya harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan terus meningkatkan rasa percaya diri ketika mengajar,” tuturnya.
Di tengah berbagai pengalaman tersebut, Nely mempertahankan prestasi akademiknya melalui kebiasaan belajar yang sederhana dan konsisten. Ia berusaha menyelesaikan tugas lebih awal agar tidak menumpuk serta aktif bertanya kepada dosen maupun teman dalam proses pembelajaran.
“Keaktifan di kelas menjadi salah satu cara memperdalam pemahaman sekaligus mempertahankan prestasi akademik yang telah diraih sejak semester awal,” ungkapnya.
Teliti Kepercayaan Diri Siswa
Pengalaman sebagai calon guru kemudian turut memengaruhi pilihan topik tugas akhirnya. Nely meneliti ‘Peran Program Sekolah Got Talent sebagai Strategi Peningkatan Kepercayaan Diri dan Potensi Bakat Minat Siswa di SDN Simomulyo VIII/497 Kota Surabaya.’
Penelitian tersebut menemukan bahwa program ‘got talent ‘ dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan minat sekaligus meningkatkan kepercayaan diri. Siswa menjadi lebih berani tampil di depan umum dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
“Kami berharap temuan tersebut dapat menjadi referensi bagi sekolah dalam mengembangkan program pembelajaran yang mendukung potensi peserta didik,” tandasnya.
Bagi Nely, pengalaman akademik dan praktik yang dijalaninya selama kuliah semakin menguatkan pilihannya untuk menjadi guru sekolah dasar. Jalan yang semula bukan pilihan utamanya justru membawanya menemukan bidang yang ingin ia tekuni.
Setelah menyelesaikan studi, ia bertekad mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar dan membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. ][
***
Reporter: Ja’far
Editor: @zam*
Dok: Nely Dias Febrianti






