
Unesa.ac.id. SURABAYA—Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik angkatan 2024, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghelat pentas teater dance musikal bertajuk “Purna Madya Warsa Triple Pendidikan 2026” pada Selasa-Rabu, 23-24 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Graha Sawunggaling Unesa Kampus II Lidah Wetan ini merupakan luaran akhir dari tiga mata kuliah; Tari Pendidikan, Musik Pendidikan dan Teater Pendidikan sehingga disebut triple pendidikan.
Keenam pertujukan dengan beragam cerita mulai dari cerita Indonesia hingga Eropa, yang ditampilkan dalam acara tersebut mulai dari Thinker Bell, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Charlie and The Chocolate Factory, Cil Kancil, hingga Adit Sopo Jarwo.

Dosen penguji, Arif Hidayat, S.Sn., M.Pd., selaku dosen penguji menuturkan kegiatan ini memang dilaksanakan rutin setiap semester, termasuk rangkain kegiatan Sendratasik, dan dilanjutkan dengan kegiatan D’tik Art di lokasi yang sama pada tanggal 27-28 Juni.
Kegiatan ini selain menjadi pembelajaran mata kuliah juga menjadi media mahasiswa menerapkan Project Based Learning (PjBL), salah satunya mengelola event, kerja sama dengan industri, tenant, hingga sponsorship.
“Melalui kegiatan ini saya berharap nantinya kelak kalau mereka memilih menjadi guru bisa beradaptasi dan memiliki kemampuan edukasi seni pertunjukan, atau jika terjun di dunia industri bisa memiliki kemampuan manajerial event terlebih seni,” ucapnya.

Kegiatan ini juga merupakan kolaborasi antara mahasiswa internasional dari Malaysia yang melaksanakan magang di prodi S-1 Sendratasik Unesa. Salah satu mahasiswa internasional bernama Willy dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia membeberkan keseruannya selama berkolaborasi dengan mahasiswa lain.
Kendati berasal dari luar negeri, dirinya mengaku tidak menghadapi banyak rintangan bahkan ketika ditunjuk sebagai aktor sekaligus narator dalam pertunjukan berjudul “Cil-Kancil”, tentu hal tersebut berkat support dari rekan-rekan mahasiswa Unesa, dosen, sesama mahasiswa internasional, dan berbagai pihak.
Salah satu pertunjukan yang dibawakan adalah cerita yang telah terkenal di dunia internasional, “Charlie and The Chocolate Factory” yang dikemas dengan gaya komedi.

Cerita Charlie dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan “Golden Ticket” berkunjung ke pabrik coklat Willy Wonka. Cerita ini menggebrak dengan pertanyaan “benarkah di dunia imitasi seperti sekarang, menjadi “tulus” merupakan “tiket” menemukan potensi diri?”
Sutradara pertujukan tersebut, Moh. Shofi Wahyudi mengatakan proses persiapan sebelum pentas termasuk latihan hingga pembuatan setting properti memakan waktu hingga 2 bulan lamanya. Namun, Shofi mengaku pertunjukkan ini merupakan cara mereka dalam mengekspresikan keresahan melalui 6 cerita yang dipilih dan disesuaikan dengan fase pendidikan.
Ketua pelaksana, Muhammad Ikmal Hadi Saputra, berharap setiap semester Sendratasik Unesa akan terus berkembang melahirkan karya-karya inovatif dan berdampak, bahkan tidak hanya nasional tetapi juga internasional.][
***
Reporter: Muhammad Azhar Adi Mas’ud (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






